“Mamas?”
Pemuda berbalut jaket tebal dengan hidung yang memerah itu menatap penasaran pada seorang laki-laki yang berada di belakang punggung sang kakak.
“Itu temen baru mamas ya? Adek baru liat.”
Abi menoleh kebelakangnya, bersisitap langsung dengan Jnata yang balik penatapnya.
Pemuda yang sedari tadi masih bertengger di daun pintu pun mulai berjalan mendekat ke arah yang ia yakini teman baru dari kakaknya itu.
Mata berbinarnya menatap penuh rasa penasaran, memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya di depan Jnata, “Aku Saddam, adiknya mamas Abi. Salam kenal, nama kakak siapa?” Senyumnya mengembang seraya kepalanya mendongak menatap pemuda yang lebih tinggi darinya.
Baru sekali melihatnya saja Jnata sudah tau, tau kalau anak di depannya ini sedikit istimewa.
Tangan Jnata membalas ulurannya dengan senyum terbaik yang ia miliki— bahkan Abi sampai mematung di hadapannya.
“Salam kenal juga Saddam, aku Jnata temennya mamas Abi. Kamu bisa panggil aku Nata.” Jnata mengusak lembut surai anak di hadapannya ini seraya terkikik pelan— sedikit menggelikan rasanya bagi Jnata untuk memanggil Abi dengan sebutan 'mamas'.
“Kakak Nata, ayo masuk,” ajaknya seraya menarik lembut tangan Jnata untuk masuk ke dalam rumahnya.
Rumah sederhana yang sangat nyaman di pandang dengan halaman yang terdapat beberapa tanaman serta sebuah ayunan kayu sederhana.
Jnata memasuki rumah itu dengan sedikit gugup, di tambah Abi yang terus memperhatikan interaksinya dengan sang adik seolah kedua mata itu memang di buat untuk mengintai seperti cctv.
Di ruang tengah sana terdapat seorang ibu berusia sekitar 40 tahunan dengan kursi roda yang terlihat tua, Jnata melangkahkan kakinya menuju seorang yang ia yakini Ibu dari rivalnya tersebut.
“Selamat malam Tante,” sapanya halus sembari menyalami tangan pucat itu.
Pergerakan mengegakkan tubuhnya terhenti saat wanita di hadapannya menaruh telapak tangan disekitar wajah lebam Jnata, “Malam nak, wajah kamu kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir dan raut sedih yang ketara, seraya menyusuri wajah itu dengan hati-hati.
Jnata tersenyum manis, “Aku gapapa kok tan, cuma di cakar kucing tadi,” sedikit berbohong tidak apa-apa bukan? pasalnya ia sedikit merasa bersalah ketika melihat wanita tua di hadapannya ini yang malah mengkhawatirkannya. Seharusnya ia marah, marah karena anak sulung kesayangannya mendapatkan teflon melayang dari Jnata secara cuma-cuma beberapa hari yang lalu, bahkan bekasnya pun masih tercetak dengan jelas.
Wanita tua dengan mantel coklat yang membalut tubuh ringkihnya itu mengisyaratkan sang anak tertua untuk mendekat— membantunya untuk duduk di kursi, “Mamas, tolong bawain baskom, air dingin, sama kotak P3K di tempat biasa ya.”
“Sini duduk di samping Bunda nak,” sangat menyenangkan rasanya mendapatkan perlakuan baik dari seorang ibu seperti ibu Abi ini, senyum dari wajah ayunya tak pernah pudar barang sedetik pun. Kedua tangannya tak dibiarkan menganggur, tangan kirinya ia daratkan untuk mengusap lembut surai sang anak, sedangkan tangan kanannya merangkul pundak Jnata.
Ah Rasanya, Jnata ingin pulang ke rumah dan memeluk sang mama.
Acara mengompres lebam serta mengobati luka sayatan yang seharusnya di lakukan Abi, malah di lakukan oleh sang bunda. Karena ia sangat khawatir anaknya tidak bisa mengobati dengan telaten dan benar.
Jelas ibu Abi tau ini bukan luka cakaran kucing ataupun hewan lainnya. Tapi, untuk menghargai Jnata yang tidak ingin bercerita ia bisa apa selain berpura-pura percaya.
Hei! Mana ada luka yang disebabkan oleh hewan bisa membuat manusia lebam seperti ini.
“Nah, udah selesai.” Ibu Abi tersenyum geli melihat Jnata yang tampak seperti orang sehabis melakukan operasi dengan perban dan juga beberapa olesan salep.
Jnata membalas dengan senyum canggung, “Terima kasih tante, maaf aku ngerepotin,” katanya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Abella— ibunda Abi mengusap lembut punggung Jnata yang berada di sampingnya, “Gapapa Nata, kamu nginep sini aja ya? udah malem, pulangnya besok pagi.”
Jnata menatap ke arah Abi yang berada di kursi sebrang sedang memeluk sang adik, mengode untuk membantunya menolak tawaran sang bunda. Namun, sialnya Abi yang tak peka hanya mengerutkan kening pertanda ia tak mengerti apa maksud Jnata.
Jnata mengehala napas, kembali menatap Abella yang menunggu jawabannya, “Maaf tante, mungkin lain kali. Aku belum ijin sama mamah.”
“Yasudah, gapapa Nata. Tapi kamu makan malam di sini dulu ya?” Abella menatap Abi, “Abi, nanti tolong antarkan Nata pulang ya nak.”