nomincitty

Jnata POV

Sekarang gue disini—di Moran markas atau yang biasa temen-temen gue sebut 'mokas'. Mokas ini tempatnya agak lumayan jauh dari sekolah kalau kata gue karena yaa ... ya jauh? lumayan lah 15 menit nyampe.

Mokas itu semacam warung tapi ga bisa dibilang warung juga, karena cuma kaya pondok sama ada halamannya gitu man.

Kenapa gue bilang Mokas mirip warung? Karena emang di dalemnya kebanyakan isi makanan sama barang-barang pribadi punya anggota Moran.

Buat bagian halamannya, biasanya h-1 sebelum tawuran kita ada semacam pelatihan (?) ya bisa dibilang begitu.

Mokas udah gue anggep kaya rumah kedua bagi gue, dan temen-temen gue pula udah gue anggep kaya keluarga gue sendiri.

Kalau ada yang nanya, kenapa sih nat lo mau join moran? alesanya klasik man, i wanna fave many friends dan juga lumayan dapet duit, meskipun kalau kalah harus gue yang bayar.

Ngga jarang pulang tawuran gue bonyok, paling parah gue kena silet di pipi sama di dahi dan itu ngebuat mamah ngomel pas gue pulang, untung mamah percaya aja kalau itu cuma gara-gara kucing sama gue jatoh dari motor.

Tawuran antar Moran-Raksa ini bisa dibilang sadis banget menurut gue, karena penentuan kalah menangnya tuh harus ada yang luka parah minimal 5 orang dari kubu gue maupun kubu Raksa.

Ngga sedikit temen-temen gue yang pulang berdarah-darah, bahkan sampe masuk rumah sakit pun udah jadi hal biasa.

Golok, pisau, pistol emang ga di bolehin buat dibawa tapi pengecualian buat silet dan benda tajem lainnya yang ukurannya kecil.

Gue pribadi sih lebih mending bawa teflon buat jaga-jaga.

Selain enak buat geplak kepala orang, dari teflon ini juga gue bisa ngelindungin kepala gue.

Ah iya gue hampir lupa, sekarang gue lagi ngecek barang-barang sama kendaraan yang besok bakalan dibawa ke medan perang.

Di tangan kiri gue ada buku yang gue jadiin alas, di atasnya ada kertas sobekan isi list sama ada pulpen juga.

Dimulai dari pickup Yanuar, gue jalan ke arah depan buat nyari Yanuar.

“Yanuar! pickup aman?,” tanya gue.

“Aman Nat!” sahut Yanuar dari kolong mobil pickup yang gue bales acungan jempol walaupun tau dia ga bakalan liat respon gue.

Langkah kaki gue, gue bawa lagi ke arah belakang—tempat pemasokan makanan, gue liat disana ada Theo sama Agus dan ada beberapa orang lainnya yang lagi bantuin mereka nyiapin makanan.

“Theo, Agus, makanan jangan ada yang ketinggalan.”

“Siap bos!” jawab Agus.

Theo? dia cuma diem, masih marah kali ya sama gue?

Tanpa pikir panjang gue langkahin kaki gue ke depan lagi buat nyari Mirza.

“Mirza! Dus aqua satu lagi.”

Kadang gue mikir, apa alesan anggota Moran generasi pertama ngebuat tradisi kaya gini? maksud gue, prepare yang kaya gini malah kesannya kaya mau piknik, bukan tawuran.

Sore ini seperti yang direncanakan sebelumnya, Jnata dan sang kekasih kini sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan.

“Kita ke timezone dulu yaa?” Mata binar itu menatap sang kekasih, di usaknya surai yang lebih pendek, “As you wish Ca,” jawabnya dengan senyum merekah.

Dua puluh menit berlalu, keduanya kini sudah berada di tujuan utama-Gramedia.

Seraya bergandengan tangan, Jnata sesekali mengusap lembut tangan yang ia genggam.

“Aku ke bagian situ dulu ya nanat,” pamitnya seraya melepaskan gandengan dan berlari kecil menuju tempat buku favoritnya.

Jnata yang melihat itu memutuskan untuk berbelok ke arah jajaran komik yang tersaji.

Seraya bergumam, “Spy spy spy spy,” salah satu jarinya tak henti untuk menyentuh deretan komik yang terjejer apik dari ujung ke ujung.

Sampailah ia disini, dengan keadaan sedikit membungkuk Jnata menemukan komik yang ia cari, tetapi sebelum itu sudah ada tangan lain yang mengambil komik berjudul spy x family 5 dan membawanya pergi melenggang begitu saja.

Tak ambil pusing, Jnata mencari lagi di antara belasan komik spy berbagai versi—namun apa daya, setelah bertanya pada staff penjaga yang ada di sana—versi yang ia inginkan ternyata memang hanya tersisa satu buku saja.

Dan tak butuh waktu lama lagi ia segera mengejar seseorang yang tadi telah mengambil komik tersebut—berharap sang pembeli pertama bisa bernegosiasi dengannya. Karena demi tuhan, Jnata telah mencari-cari komik itu kemanapun tetapi selalu sold out.

Dilihatnya seorang berjaket hitam yang ia yakini adalah orang yang sama dengan pria tadi dari kejauhan, ia memutuskan untuk menghampiri.

Dengan sedikit berlari Jnata menghampiri orang tersebut yang akan tiba di meja kasir, Jnata menepuk pelan pundak itu—belum sempat memandang pemuda itu, ia di kejutkan oleh Ica yang entah datang dari mana menghampirinya seraya merangkulkan lengan keduanya.

“Kamu mau ngapain?” tanyanya pada sang kekasih. Setelah tersadar akan lamunannya, Jnata kembali menatap wajah di depannya—alangkah terkejutnya ia—ralat, alangkah terkejutnya keduanya saat tahu siapa yang menepuk dan siapa yang ditepuk. Oh shit Abishaka

Abi menatap kedua pasangan di hadapannya dengan raut wajah datar. Saat Abi ingin berbalik badan, Jnata spontan menarik kasar jaket itu yang mana membuat Abi berbalik dan langsung bersitatap dekat dengan sang rival.

“Mau apa lo?” ketus Abi menatap tajam Jnata.

Persetan dengan kata sopan Jnata sudah kepalang gugup dengan tatapan tajam itu, di tambah Ica yang menatapnya lekat seolah keduanya ingin memakan Jnata hidup-hidup. Dasar hiperbola

Jnata gugup adalah hal yang paling memalukan, ia akan menjawab dan bersikap spontan tanpa berpikir dahulu.

“G- gue—”

“Gue SPY!”

“Spy pki! Satu LAPAN dua!”

Keduanya menatap Jnata aneh, bahkan Abi sudah merotasikan kedua matanya menatap Jnata jengah—sungguh, Jnata Janggela ini sebenarnya spesies makhluk aneh macam apa?

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, tidak seperti Moran yang acara peresmiannya malam, anggota Raksa lebih memilih jalur aman yaitu di sore hari setelah pulang sekolah.

Mereka berkumpul di markas—sebuah rumah yang terbilang cukup besar dengan halaman yang cukup luas. Markas ini sebenarnya milik ketua Raksa yang pertama, si pencetus Raksa dan segala permasalah awal yang berkaitan dengan Moran.

Doni Andaresta namanya.

Sang pemilik sudah tidak ada urusan lagi dengan Raksa maupun Moran tetapi sesekali—jika ada perayaan penting, dia muncul kembali.

Berkepala empat dan memiliki seorang anak bukanlah hal yang membuat jiwa mudanya runtuh.

Sudah setengah abad rumah atau yang sering mereka sebut markas itu berdiri.

Seseorang menepuk seraya merangkul bahu Abi, “Congrats broo, you deserves it.” kekehan keluar dari bibir berpipi lesung itu.

Abi membalas dengan senyuman, “Thanks bang.”

Bahu itu dirangkul menuju ruang utama, tepatnya tempat berkumpulnya para anggota Raksa.

“Gue basa basi dulu apa langsung nih?”

“Basa basi dulu lah bang.” Suara salah satu anggota Raksa.

“Selamat sore semuanya, perkenalkan—”

Tiba-tiba seseorang menonyor kepala Jaffar, “Kaga begitu juga nyett.” Siapa lagi yang berani menonyor ketua—ralat, mantan ketua Raksa kalau bukan Tio Pratama?

“Oke, oke gue ulang.” Kekehan konyol keluar dari bibir itu, lagi.

“Disebelah gue kaya yang kalian tau, Abishaka Fareza,” ada jeda sedikit di kalimat itu untuk Jaffar menoleh—memberi isyarat pada Abi untuk lebih mendekat, “Ketua Raksa tahun ini, penganti gue.”

Suara tepukan meriah terdengar menggelegar di seluruh penjuru ruangan serta beberapa pujian dan candaan terlontar.

Ketua Raksa tidak hanya dipilih dari yang kuat saja melainkan yang pintar, perpaduan otot dan otak yang menjadi dasar pemilihan kandidat ini.

“Ada yang mau lo sampein ga Bi?”

Yang ditanya mengangguk, “Gue, Abishaka Fareza. Cuma berharap kita semua bisa saling support satu sama lain dan engga ada yang namanya permusuhan disini.”

Abi pandang semua anggota Raksa, “Kalau gue ada salah kedepannya tolong ditegur, and i wanna say thank you so much for you all.”

Malam ini tepat acara peresmian anggota serta ketua moran yang baru diselenggarakan.

Apakah ada yang bisa menebak diantara kalian dimana tempat acara ini dilaksanakan? Sekolah? Markas? Gunung? Hutan? Atau hotel? Jawabannya adalah kuburan.

Iya, kuburan. Benar-benar tanah kuburan nyata tempat yang mereka pijak sekarang.

Tetapi bukan berada disini puncak acaranya, melainkan di sebuah gedung rumah sakit lama yang terbengkalai. Ini memang sudah menjadi tradisi turun temurun entah siapa pencetus ide gila ini.

Anggota yang berjumlah sekitar 25 orang termasuk ketua moran yang baru ini dibagi menjadi 5 sesi. Sesi pertama pada jam 23.00 sampai 00.00, sesi ke dua 00.00 sampai 01.00, sedangkan sesi ke tiga 01.00 sampai 02.00 sampai sesi selanjutnya selesai.

Selama satu jam ini mereka dipisahkan dari ujung ke ujung, diminta untuk duduk di tanah tanpa penerangan apapun di salah satu pinggiran makam, selama itu mereka hanya berdoa dan berdoa terus berdoa untuk makam yang berada disampingnya.

Terkadang, ada pula senior mereka yang jail—mengcosplay macam-macam hantu.

Tidak jarang pula yang memang melihat wujud hantu yang asli.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini sudah pukul 04.00 pagi rasa lelah dan mengantuk mulai menyerang.

Sebelum berpulang ke rumah masing-masing mereka menyempatkan diri untuk mengumpul di pendopo.

“Masih semangat pren?”

“MASIH!”

“Widihhh keren dah keren,” puji Bang Adam seraya mengacungkan dua jempol.

“Karena waktunya terbatas, besok kita lanjut lagi kumpul di markas jam 9. OKEEE???”

“SIAPP BANG!”

“Buat penutup, merapet kela kadieu.”

Mereka yang totalnya berjumlah 30 orang itu merapat sesuai perintah mantan ketua, “MORANN!“disusul dengan tangan yang bertindih tindih lalu di hempaskan ke atas, “HARGA MATI!!”

Tiba-tiba suara grasak grusuk dari arah belakang menarik perhatian mereka.

Anjing ... mah, nana mau pulang ... batin Jnata.

KASURUPAN ANYING LUR ETA SI AHMAD!!”

Oh tidak … kejadian beberapa taun lalu terulang kembali.

Malam ini tepat acara peresmian anggota serta ketua moran yang baru diselenggarakan.

Apakah ada yang bisa menebak diantara kalian dimana tempat acara ini dilaksanakan? Sekolah? Markas? Gunung? Hutan? Atau hotel? Jawabannya adalah kuburan.

Iya, kuburan. Benar-benar tanah kuburan nyata tempat yang mereka pijak sekarang.

Tetapi bukan berada disini puncak acaranya, melainkan di sebuah gedung rumah sakit lama yang terbengkalai. Ini memang sudah menjadi tradisi turun temurun entah siapa pencetus ide gila ini.

Anggota yang berjumlah sekitar 25 orang termasuk ketua moran yang baru ini dibagi menjadi 5 sesi. Sesi pertama pada jam 23.00 sampai 00.00, sesi ke dua 00.00 sampai 01.00, sedangkan sesi ke tiga 01.00 sampai 02.00 sampai sesi selanjutnya selesai.

Selama satu jam ini mereka dipisahkan dari ujung ke ujung, diminta untuk duduk di tanah tanpa penerangan apapun di salah satu pinggiran makam, selama itu mereka hanya berdoa dan berdoa terus berdoa untuk makam yang berada disampingnya.

Terkadang, ada pula senior mereka yang jail—mengcosplay macam-macam hantu.

Tidak jarang pula yang memang melihat wujud hantu yang asli.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini sudah pukul 04.00 pagi rasa lelah dan mengantuk mulai menyerang.

Sebelum berpulang ke rumah masing-masing mereka menyempatkan diri untuk mengumpul di pendopo.

“Masih semangat pren?”

“MASIH!”

“Widihhh keren dah keren,” puji Bang Adam seraya mengacungkan dua jempol

“Karena waktunya terbatas, besok kita lanjut lagi kumpul di markas jam 9. OKEEE???”

“SIAPP BANG!”

“Buat penutup, merapet kela kadieu.”

Mereka yang totalnya berjumlah 30 orang itu merapat sesuai perintah mantan ketua, “MORANN!“disusul dengan tangan yang bertindih tindih lalu di hempaskan ke atas, “HARGA MATI!!”

Tiba-tiba suara grasak grusuk dari arah belakang menarik perhatian mereka.

Anjing ... mah, nana mau pulang ... batin Jnata.

KASURUPAN ANYING LUR ETA SI AHMAD!!”

Oh tidak … kejadian beberapa taun lalu terulang kembali.

Malam ini tepat acara peresmian anggota serta ketua moran yang baru diselenggarakan.

Apakah ada yang bisa menebak diantara kalian dimana tempat acara ini dilaksanakan? Sekolah? Markas? Gunung? Hutan? Atau hotel? Jawabannya adalah kuburan.

Iya, kuburan. Benar-benar tanah kuburan nyata tempat yang mereka pijak sekarang.

Tetapi bukan berada disini puncak acaranya, melainkan di sebuah gedung rumah sakit lama yang terbengkalai. Ini memang sudah menjadi tradisi turun temurun entah siapa pencetus ide gila ini.

Anggota yang berjumlah sekitar 25 orang termasuk ketua moran yang baru ini dibagi menjadi 5 sesi. Sesi pertama pada jam 23.00 sampai 00.00, sesi ke dua 00.00 sampai 01.00, sedangkan sesi ke tiga 01.00 sampai 02.00 sampai sesi selanjutnya selesai.

Selama satu jam ini mereka dipisahkan dari ujung ke ujung, diminta untuk duduk di tanah tanpa penerangan apapun di salah satu pinggiran makam, selama itu mereka hanya berdoa dan berdoa terus berdoa untuk makam yang berada disampingnya.

Terkadang, ada pula senior mereka yang jail—mengcosplay macam – macam hantu.

Tidak jarang pula yang memang melihat wujud hantu yang asli.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini sudah pukul 04.00 pagi rasa lelah dan mengantuk mulai menyerang.

Sebelum berpulang ke rumah masing-masing mereka menyempatkan diri untuk mengumpul di pendopo.

“Masih semangat pren?”

“MASIH!”

“Widihhh keren dah keren,” puji Bang Adam seraya mengacungkan dua jempol

“Karena waktunya terbatas, besok kita lanjut lagi kumpul di markas jam 9. OKEEE???”

“SIAPP BANG!”

“Buat penutup, merapet kela kadieu.”

Mereka yang totalnya berjumlah 30 orang itu merapat sesuai perintah mantan ketua, “MORANN!“disusul dengan tangan yang bertindih tindih lalu di hempaskan ke atas, “HARGA MATI!!”

Tiba-tiba suara grasak grusuk dari arah belakang menarik perhatian mereka.

Anjing ... mah, nana mau pulang ... batin Jnata.

KASURUPAN ANYING LUR ETA SI AHMAD!!”

Oh tidak … kejadian beberapa taun lalu terulang kembali.

Matahari terasa terik di siang ini, tepatnya pukul dua belas lebih dua belas menit, mereka—baik raksa maupun non raksa kini sedang bersama-sama menyaksikan LCCR yang diselenggarakan di lapangan outdoor basket.

Lapangan basket dibuat sedemikian rupa mirip dengan kontes LCC yang seaslinya.

Di depan para peserta ada podium minimalis dan panggung yang mereka rancang dengan menggunakan meja serta kursi untuk tempat duduk para juri, yang menjadi jurinya pun tidak main-main karena pemilihan ketua raksa tahun-tahun sebelumnya pun memang sangat ketat—tetapi bukan LCC seperti ini melainkan adu adrenalin.

Di depan sana ada kepsek serta guru BK yang ikut serta memeriahkan pemilihan ketua raksa tahun ini, dan apakah mereka tau jika perlombaan ini untuk pemilihan ketua geng? tentu tidak.

Karena di depan sana terpampang jelas spanduk ukuran 80x200cm yang bertuliskan LOMBA CERDAS CERMAT SISWA BERPRESTASI. Jika ada yang bertanya mengapa bisa guru serta kepsek bisa ikut serta? jawabannya karena salah satu anggota raksa adalah ketua OSIS yang mengajukan proposal lomba cerdas cermat yang tentu saja disetujui karena bertujuan positif. Entah apa respon mereka jika tau ini bukan lcc biasa

Di barisan paling depan ada Abishaka lalu disusul 2 bangku kebelakang—Geisha dan Nino, sedangkan di posisi sebrang ada Erland dan Lakesh.

Sorak sorai sorakan penonton menggema sampai keluar gerbang sekolah tepat saat LCCR akan dimulai.

ABI! MANEH KUDU YAKIN! MANEH KUDU BISA NGERJAKEUN NA!”

“ABI ULAH MALU MALUIN!”

“ABI SEMANGAT BI!”

tentu saja itu adalah seruan para peserta grup “einstein without brain”.

Salah satu senior raksa mulai membagikan beberapa kertas soal dan jawaban, sedangkan yang lain membacakan tata tertib serta ada pula yang berjualan minuman dingin di sekitar pengunjung—hitung-hitung sembari menyelam minum air kata mereka.

“Waktunya hanya satu jam tiga puluh menit di mulai dari—”

“SEKARANG!”

Peluit panjang berbunyi penanda dimulainya LCCR.

_________________________________________

“Dalam hitungan mundur 5 detik silahkan angkat tangan.” titah salah satu juri.

Para penonton yang sudah tersebar tak tentu arah kini berlomba-lomba untuk maju memenuhi sekitar lapangan kembali.

“Lima!”

“Empat!'

“Tiga!”

“Dua!”

“Satuuuu!”

Bunyi peluit panjang dibunyikan kembali—penanda berakhirnya kegiatan yang dilakukan.

Setelah selesai mengumpulkan hasil tes, Abi berjalan mendekati teman-temannya.

Ravel merangkul pundak Abi, “Otak lo ga panas Bi?” Abi membalas dengan gelengan pelan seraya mengelap keringatnya dengan baju yang ia kenakan—dirangkulnya tubuh jangkung itu menuju tempat yang lebih rindang.

Dengan seragam sekolah yang masih melekat, mereka pergi menuju ke rumah Reksa menggunakan para PAsukan keNDAraan atau yang biasa mereka singkat—PANDA, pasukan PANDA diantara lain ada; PDI milik Jnata, BMKG milik Erik dan Ultramen kesayangan Yanuar yang selalu ia bawa untuk mengangkut anggota Moran saat tawuran maupun perkumpulan biasa.

Dan pada akhirnya pun mereka disini—dirumah Reksa dengan segala keperluan yang ditunjang oleh adik Reksa; bahan utama ( karet ) serta bahan pangan batagor suplemen dari Theo.

“Abang! Karet aku jangan sampe putus!” Seru anak kecil berusia enam tahun itu dari lantai dua.

“IYAAA!” Reksa menyahut dari lantai bawah.

“Adek lo boleh buat gue aja ga Sa?” Reksa melirik sinis Yanuar, “Langkahin dulu mayat gue,” tukasnya seraya berjalan mendahului Yanuar.

Permainan pun dimulai dengan hompimpah,

“Hompimpa alaium gambreng.” Empat dari enam membalikkan tangan.

“Mak ijah pake baju rombeng.” Dua dari antara mereka—Erik dan Leo menjadi pemegang karet pertama.

Dimulai dari lompatan paling dasar—dua orang berjongkok sampai tali karet itu mengenai tanah yang mereka pijak.

Saat sedang merdeka jongkok, salah satu kaki Theo tak sengaja menginjak talinya yang membuat ia harus bergantian dengan Erik sebagai pemegang karet.

Lalu disusul pergantian Leo dengan Reksa saat tali berada dada.

Tak terasa permainan hampir selesai dibabak pertama—merdeka berdiri, dimana mereka bergantian melompat hanya dalam satu kali percobaan.

“Ah anying, aing nyerah lur meuni susah pisan ieu.” lesu Yanuar yang sudah kelelahan.

“Kalah lo sama adek gue.” ledek Reksa.

“Kalau misal yang bisa ngelewatin babak pertama ada lebih dari satu orang kumaha brader?”

“Babak final terakhir suit.”

#Rumah Reksa.

Dengan seragam sekolah yang masih melekat, mereka pergi menuju ke rumah Reksa menggunakan para PAsukan keNDAraan atau yang biasa mereka singkat—PANDA, pasukan PANDA diantara lain ada; PDI milik Jnata, BMKG milik Erik dan Ultramen kesayangan Yanuar yang selalu ia bawa untuk mengangkut anggota Moran saat tawuran maupun perkumpulan biasa.

Dan pada akhirnya pun mereka disini—dirumah Reksa dengan segala keperluan yang ditunjang oleh adik Reksa; bahan utama ( karet ) serta bahan pangan batagor suplemen dari Theo.

“Abang! Karet aku jangan sampe putus!” Seru anak kecil berusia enam tahun itu dari lantai dua.

“IYAAA!” Reksa menyahut dari lantai bawah.

“Adek lo boleh buat gue aja ga Sa?” Reksa melirik sinis Yanuar, “Langkahin dulu mayat gue,” tukasnya seraya berjalan mendahului Yanuar.

Permainan pun dimulai dengan hompimpah,

“Hompimpa alaium gambreng.” Empat dari enam membalikkan tangan.

“Mak ijah pake baju rombeng.” Dua dari antara mereka—Erik dan Leo menjadi pemegang karet pertama.

Dimulai dari lompatan paling dasar—dua orang berjongkok sampai tali karet itu mengenai tanah yang mereka pijak.

Saat sedang merdeka jongkok, salah satu kaki Theo tak sengaja menginjak talinya yang membuat ia harus bergantian dengan Erik sebagai pemegang karet.

Lalu disusul pergantian Leo dengan Reksa saat tali berada dada.

Tak terasa permainan hampir selesai dibabak pertama—merdeka berdiri, dimana mereka bergantian melompat hanya dalam satu kali percobaan.

“Ah anying, aing nyerah lur meuni susah pisan ieu.” lesu Yanuar yang sudah kelelahan.

“Kalah lo sama adek gue.” ledek Reksa.

“Kalau misal yang bisa ngelewatin babak pertama ada lebih dari satu orang kumaha brader?”

“Babak final terakhir suit.”

Siang ini sesuai jadwal yang telah ditentukan, Jester bergegas pergi menuju Rumah Sakit Permata. Langkah demi langkah yang ia pijak terasa sangat berat, tak seperti biasanya seolah akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Dan begitu langkah kakinya berpijak memasuki ruang unit Hemodialisa, alangkah terkejutnya ia melihat sang kekasih—Keen Kalyan yang sedang terbaring lemas tengah melakukan cuci darah.