Morjalam—moran jaga malam.
Malam ini tepat acara peresmian anggota serta ketua moran yang baru diselenggarakan.
Apakah ada yang bisa menebak diantara kalian dimana tempat acara ini dilaksanakan? Sekolah? Markas? Gunung? Hutan? Atau hotel? Jawabannya adalah kuburan.
Iya, kuburan. Benar-benar tanah kuburan nyata tempat yang mereka pijak sekarang.
Tetapi bukan berada disini puncak acaranya, melainkan di sebuah gedung rumah sakit lama yang terbengkalai. Ini memang sudah menjadi tradisi turun temurun entah siapa pencetus ide gila ini.
Anggota yang berjumlah sekitar 25 orang termasuk ketua moran yang baru ini dibagi menjadi 5 sesi. Sesi pertama pada jam 23.00 sampai 00.00, sesi ke dua 00.00 sampai 01.00, sedangkan sesi ke tiga 01.00 sampai 02.00 sampai sesi selanjutnya selesai.
Selama satu jam ini mereka dipisahkan dari ujung ke ujung, diminta untuk duduk di tanah tanpa penerangan apapun di salah satu pinggiran makam, selama itu mereka hanya berdoa dan berdoa terus berdoa untuk makam yang berada disampingnya.
Terkadang, ada pula senior mereka yang jail—mengcosplay macam-macam hantu.
Tidak jarang pula yang memang melihat wujud hantu yang asli.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saat ini sudah pukul 04.00 pagi rasa lelah dan mengantuk mulai menyerang.
Sebelum berpulang ke rumah masing-masing mereka menyempatkan diri untuk mengumpul di pendopo.
“Masih semangat pren?”
“MASIH!”
“Widihhh keren dah keren,” puji Bang Adam seraya mengacungkan dua jempol.
“Karena waktunya terbatas, besok kita lanjut lagi kumpul di markas jam 9. OKEEE???”
“SIAPP BANG!”
“Buat penutup, merapet kela kadieu.”
Mereka yang totalnya berjumlah 30 orang itu merapat sesuai perintah mantan ketua, “MORANN!“disusul dengan tangan yang bertindih tindih lalu di hempaskan ke atas, “HARGA MATI!!”
Tiba-tiba suara grasak grusuk dari arah belakang menarik perhatian mereka.
Anjing ... mah, nana mau pulang ... batin Jnata.
“KASURUPAN ANYING LUR ETA SI AHMAD!!”
Oh tidak … kejadian beberapa taun lalu terulang kembali.