Jumat, peresmian Raksa.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, tidak seperti Moran yang acara peresmiannya malam, anggota Raksa lebih memilih jalur aman yaitu di sore hari setelah pulang sekolah.

Mereka berkumpul di markas—sebuah rumah yang terbilang cukup besar dengan halaman yang cukup luas. Markas ini sebenarnya milik ketua Raksa yang pertama, si pencetus Raksa dan segala permasalah awal yang berkaitan dengan Moran.

Doni Andaresta namanya.

Sang pemilik sudah tidak ada urusan lagi dengan Raksa maupun Moran tetapi sesekali—jika ada perayaan penting, dia muncul kembali.

Berkepala empat dan memiliki seorang anak bukanlah hal yang membuat jiwa mudanya runtuh.

Sudah setengah abad rumah atau yang sering mereka sebut markas itu berdiri.

Seseorang menepuk seraya merangkul bahu Abi, “Congrats broo, you deserves it.” kekehan keluar dari bibir berpipi lesung itu.

Abi membalas dengan senyuman, “Thanks bang.”

Bahu itu dirangkul menuju ruang utama, tepatnya tempat berkumpulnya para anggota Raksa.

“Gue basa basi dulu apa langsung nih?”

“Basa basi dulu lah bang.” Suara salah satu anggota Raksa.

“Selamat sore semuanya, perkenalkan—”

Tiba-tiba seseorang menonyor kepala Jaffar, “Kaga begitu juga nyett.” Siapa lagi yang berani menonyor ketua—ralat, mantan ketua Raksa kalau bukan Tio Pratama?

“Oke, oke gue ulang.” Kekehan konyol keluar dari bibir itu, lagi.

“Disebelah gue kaya yang kalian tau, Abishaka Fareza,” ada jeda sedikit di kalimat itu untuk Jaffar menoleh—memberi isyarat pada Abi untuk lebih mendekat, “Ketua Raksa tahun ini, penganti gue.”

Suara tepukan meriah terdengar menggelegar di seluruh penjuru ruangan serta beberapa pujian dan candaan terlontar.

Ketua Raksa tidak hanya dipilih dari yang kuat saja melainkan yang pintar, perpaduan otot dan otak yang menjadi dasar pemilihan kandidat ini.

“Ada yang mau lo sampein ga Bi?”

Yang ditanya mengangguk, “Gue, Abishaka Fareza. Cuma berharap kita semua bisa saling support satu sama lain dan engga ada yang namanya permusuhan disini.”

Abi pandang semua anggota Raksa, “Kalau gue ada salah kedepannya tolong ditegur, and i wanna say thank you so much for you all.”