LCCR

Matahari terasa terik di siang ini, tepatnya pukul dua belas lebih dua belas menit, mereka—baik raksa maupun non raksa kini sedang bersama-sama menyaksikan LCCR yang diselenggarakan di lapangan outdoor basket.

Lapangan basket dibuat sedemikian rupa mirip dengan kontes LCC yang seaslinya.

Di depan para peserta ada podium minimalis dan panggung yang mereka rancang dengan menggunakan meja serta kursi untuk tempat duduk para juri, yang menjadi jurinya pun tidak main-main karena pemilihan ketua raksa tahun-tahun sebelumnya pun memang sangat ketat—tetapi bukan LCC seperti ini melainkan adu adrenalin.

Di depan sana ada kepsek serta guru BK yang ikut serta memeriahkan pemilihan ketua raksa tahun ini, dan apakah mereka tau jika perlombaan ini untuk pemilihan ketua geng? tentu tidak.

Karena di depan sana terpampang jelas spanduk ukuran 80x200cm yang bertuliskan LOMBA CERDAS CERMAT SISWA BERPRESTASI. Jika ada yang bertanya mengapa bisa guru serta kepsek bisa ikut serta? jawabannya karena salah satu anggota raksa adalah ketua OSIS yang mengajukan proposal lomba cerdas cermat yang tentu saja disetujui karena bertujuan positif. Entah apa respon mereka jika tau ini bukan lcc biasa

Di barisan paling depan ada Abishaka lalu disusul 2 bangku kebelakang—Geisha dan Nino, sedangkan di posisi sebrang ada Erland dan Lakesh.

Sorak sorai sorakan penonton menggema sampai keluar gerbang sekolah tepat saat LCCR akan dimulai.

ABI! MANEH KUDU YAKIN! MANEH KUDU BISA NGERJAKEUN NA!”

“ABI ULAH MALU MALUIN!”

“ABI SEMANGAT BI!”

tentu saja itu adalah seruan para peserta grup “einstein without brain”.

Salah satu senior raksa mulai membagikan beberapa kertas soal dan jawaban, sedangkan yang lain membacakan tata tertib serta ada pula yang berjualan minuman dingin di sekitar pengunjung—hitung-hitung sembari menyelam minum air kata mereka.

“Waktunya hanya satu jam tiga puluh menit di mulai dari—”

“SEKARANG!”

Peluit panjang berbunyi penanda dimulainya LCCR.

_________________________________________

“Dalam hitungan mundur 5 detik silahkan angkat tangan.” titah salah satu juri.

Para penonton yang sudah tersebar tak tentu arah kini berlomba-lomba untuk maju memenuhi sekitar lapangan kembali.

“Lima!”

“Empat!'

“Tiga!”

“Dua!”

“Satuuuu!”

Bunyi peluit panjang dibunyikan kembali—penanda berakhirnya kegiatan yang dilakukan.

Setelah selesai mengumpulkan hasil tes, Abi berjalan mendekati teman-temannya.

Ravel merangkul pundak Abi, “Otak lo ga panas Bi?” Abi membalas dengan gelengan pelan seraya mengelap keringatnya dengan baju yang ia kenakan—dirangkulnya tubuh jangkung itu menuju tempat yang lebih rindang.