Duality Jnata Janggela & Abi Ica
Sore ini seperti yang direncanakan sebelumnya, Jnata dan sang kekasih kini sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan.
“Kita ke timezone dulu yaa?” Mata binar itu menatap sang kekasih, di usaknya surai yang lebih pendek, “As you wish Ca,” jawabnya dengan senyum merekah.
Dua puluh menit berlalu, keduanya kini sudah berada di tujuan utama-Gramedia.
Seraya bergandengan tangan, Jnata sesekali mengusap lembut tangan yang ia genggam.
“Aku ke bagian situ dulu ya nanat,” pamitnya seraya melepaskan gandengan dan berlari kecil menuju tempat buku favoritnya.
Jnata yang melihat itu memutuskan untuk berbelok ke arah jajaran komik yang tersaji.
Seraya bergumam, “Spy spy spy spy,” salah satu jarinya tak henti untuk menyentuh deretan komik yang terjejer apik dari ujung ke ujung.
Sampailah ia disini, dengan keadaan sedikit membungkuk Jnata menemukan komik yang ia cari, tetapi sebelum itu sudah ada tangan lain yang mengambil komik berjudul spy x family 5 dan membawanya pergi melenggang begitu saja.
Tak ambil pusing, Jnata mencari lagi di antara belasan komik spy berbagai versi—namun apa daya, setelah bertanya pada staff penjaga yang ada di sana—versi yang ia inginkan ternyata memang hanya tersisa satu buku saja.
Dan tak butuh waktu lama lagi ia segera mengejar seseorang yang tadi telah mengambil komik tersebut—berharap sang pembeli pertama bisa bernegosiasi dengannya. Karena demi tuhan, Jnata telah mencari-cari komik itu kemanapun tetapi selalu sold out.
Dilihatnya seorang berjaket hitam yang ia yakini adalah orang yang sama dengan pria tadi dari kejauhan, ia memutuskan untuk menghampiri.
Dengan sedikit berlari Jnata menghampiri orang tersebut yang akan tiba di meja kasir, Jnata menepuk pelan pundak itu—belum sempat memandang pemuda itu, ia di kejutkan oleh Ica yang entah datang dari mana menghampirinya seraya merangkulkan lengan keduanya.
“Kamu mau ngapain?” tanyanya pada sang kekasih. Setelah tersadar akan lamunannya, Jnata kembali menatap wajah di depannya—alangkah terkejutnya ia—ralat, alangkah terkejutnya keduanya saat tahu siapa yang menepuk dan siapa yang ditepuk. Oh shit Abishaka
Abi menatap kedua pasangan di hadapannya dengan raut wajah datar. Saat Abi ingin berbalik badan, Jnata spontan menarik kasar jaket itu yang mana membuat Abi berbalik dan langsung bersitatap dekat dengan sang rival.
“Mau apa lo?” ketus Abi menatap tajam Jnata.
Persetan dengan kata sopan Jnata sudah kepalang gugup dengan tatapan tajam itu, di tambah Ica yang menatapnya lekat seolah keduanya ingin memakan Jnata hidup-hidup. Dasar hiperbola
Jnata gugup adalah hal yang paling memalukan, ia akan menjawab dan bersikap spontan tanpa berpikir dahulu.
“G- gue—”
“Gue SPY!”
“Spy pki! Satu LAPAN dua!”
Keduanya menatap Jnata aneh, bahkan Abi sudah merotasikan kedua matanya menatap Jnata jengah—sungguh, Jnata Janggela ini sebenarnya spesies makhluk aneh macam apa?