Bumi Pasundan, 18.00.

Terhitung sudah dua jam lebih lamanya langit membasahi bumi Pasundan, mengguyur gedung-gedung serta bangunan kecil di sekitarnya.

Kalang kabut kendaraan serta pejalan kaki berlalu lalang tak mengidahi hujan, terkadang pula menerobos rambu lalu lintas demi cepat mencapai tempat tujuan.

Sepasang pemuda pemudi berjaket denim dan berhoodie pink berjalan santai menyusuri trotoar mall yang tertutupi dengan atap kaca, bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih bahagia tanpa tahu betul perasaan yang sebenarnya.

Jnata melihat bangku kosong yang berjarak beberapa meter dari jangkauannya, ia memutuskan untuk duduk sebentar sembari menunggu hujan reda.

Hawa dingin semakin menerpa, hujan disertai angin kencang memang perpaduan yang pas untuk mengeluarkan keluh kesah pada sang pencipta, tapi tidak untuk saat ini.

Jnata merapatkan tubuhnya pada sang kekasih, “Kamu kedinginan? Mau pake jaket aku nggak? Apa mau masuk lagi aja?”

Pertanyaan berturut-turut itu membuat perempuan di sampingnya tersenyum manis, “Enggak perlu Nanat. lagian motor kamu kan di sekitar sini, kalau kita masuk lagi yang ada bolak balik.”

“Tunggu sebentar lagi, kalau hujannya nggak reda-reda kita masuk,” sambungnya di sertai genggaman tangan yang semakin erat untuk meyakinkan Jnata bahwa ia baik-baik saja.

Jnata mengangguk sebagai jawaban, kemudian bertanya kembali, “Abis ini kamu mau langsung pulang nggak?” Jnata menata surai sembari menatap lembut sang kekasih.

Ica menggeleng pelan, masih dengan tatapan kosong menghadap ke arah kendaraan yang berjejer rapih di depannya, “Mau jalan-jalan lagi, boleh kan? Belakangan ini kamu udah jarang banget jalan sama aku, Nat.”

“Boleh, kamu mau kemana?”

Ica menatap balik manik teduh lawan bicara di sampingnya, tangannya yang semula menggenggam kini ia sisipkan di tengah-tengah lengan keduanya, “Cafe di sekitar sini mau gak? Banyak yang bilang cafenya beda dari yang lain gitu, aku penasaran deh,” dua pasang mata berukuran minim itu memancarkan kebahagiaan terdalam.

Jnata mengangguk, menyutujui atas usul sang kekasih.