Breakfast with Abishaka

Sampailah mereka di sini, di tempat makan yang Abi sarankan.

Sebuah kedai seafood dengan beberapa ornamen laut pelengkap yang sangat khas.

Jaraknya memang lumayan jauh dari ibu kota, karena memang mereka sengaja melakukan ini untuk menghindari jika ada anggota Moran atau Raksa yang melihat.

Walaupun di peraturan tertulis tidak ada larangan bila anggota Raksa dan Moran tidak boleh berteman. Hanya antisipasi saja

Abi tengah melihat-lihat daftar menu yang tersedia, pandangannya kini tertuju pada Jnata yang melamun menatap sekelilingnya, “Lo mau pesen apa?”

Jnata menoleh—memusatkan pandangannya pada Abi, “Samain aja kaya lo, gue bingung.”

Setelah Jnata mengatakan itu Abi lantas memanggil salah satu waiters untuk mulai memesan makanan.

“Cumi, kepiting, kerang saus tiram sama es teh dua mas.”

“Saus tiram semua kak?”

Abi memberi jawaban dengan tersenyum seraya mengangguk.

Setelahnya, Waiters dengan cekatan menulis apa yang pemuda itu pesan.

Jnata yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi Abi dengan sang waiters pun akhirnya mulai membuka percakapan kembali.

“Mewah banget tempatnya,” gumam Jnata seraya menumpukan sikunya pada meja, pandangannya kembali memperhatikan sekitar.

Abi mengangguk samar menyetujui ucapan pemuda di hadapannya, serta ikut memperhatikan kondisi tempat makan yang mereka datangi, “Walaupun keliatan mewah, tapi harganya murah.”

“Kok lo bisa tau tempat se cakep ini?”

“Sebenernya ini tempat makan lama, tapi emang belum banyak yang tau. Gue pertama kali kesini sama Bunda sekitar 7 tahun yang lalu mungkin.” Raut wajah Abi mulai berubah sendu yang tak terlalu ketara, kinerja otaknya mulai memutar memori indahnya bersama sang ibunda sebelum kenangan pahit menyita waktu yang begitu lama.

Jnata yang mulai merasa suasana menjadi sendu pun berinisiatif untuk mengalihkan topik, “Eh, ini jam berapa Bi?”

Abi merogoh saku celananya—mengambil handphone untuk di letakkan di atas meja agar mereka berdua bisa melihat jam yang tertera di sana.

“Jam dua Nat.”

Breakfast kita kepagian ya Bi.”

Abi terkekeh menanggapi ucapan Jnata sampai kedua matanya seperti hilang di telan bumi, ah lebih tepatnya itu kekehan maut yang membuat pemuda di hadapannya merasakan hal yang seharusnya tidak ia rasakan.

Jnata langsung menepis perasaan itu dengan berfikir positif ini bukan karena kekehan Abi, melainkan udara dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri serta jantungnya yang berdetak cepat.