Gudang belakang sekolah

Theo datang sesuai permintaan Jnata kemarin.

Pemuda dengan dasi yang tergulung di sela-sela jari itu tengah berjalan mendekati Jnata yang berada di tengah ruangan.

Jnata terlihat sangat tenang, walaupun jauh di lubuk hatinya ingin sekali menghabisi pemuda di depannya.

Keduanya telah berhadapan, dengan Theo yang bersidekap dan Jnata yang menaruh kedua tangannya di saku celana, pandangan mereka sangat tajam bagai pedang yang siap menghunus lawannya.

Jnata menelisik Theo dari bawah sampai atas yang mana membuat pemuda bersurai hitam itu merasa sedikit tersinggung.

“Ada masalah pribadi apa lo sama gue? Ga mungkin kan cuma gara-gara lgbt kemaren sama masalah tawuran?”

Theo bergumam menjawab pertanyaan tersebut seraya bersiul memutari Jnata, “Ya—Tebakan lo ada benernya Nat.”

Jnata menghentikan pergerakan Theo dengan menarik kerahnya mengunakan kedua tangan agar mendekat, “To the point sebelum gue bener-bener ngehajar lo disini,” Jnata geram? tentu saja ia geram sekali dengan pemuda di hadapannya ini tapi sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang— tidak mau menyerang terlebih dahulu.

“Gue benci sama lo Nat.” Theo berdesis, dengan cepat menendang tubuh Jnata dengan kakinya yang mana membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah.

Jnata berusaha mempertahankan keseimbangannya agar tidak jatuh tersungkur, “Atas dasar apa lo benci sama gue? gue ada salah apa sama lo?” masih bersikap tenang, dengan napasnya yang memburu pertanda ia sedang menahan emosi.

Theo maju beberapa langkah mendekati kembali Jnata, “Lo ga perlu nanya Nat, yang lo perlu ngaca!” sarkasnya, menatap remeh Jnata seolah ia makhluk yang paling menjijikkan.

Jari telunjuknya mengacung ke depan, kemudian mendarat pada dada laki-laki di hadapannya. Obsidiannya nyalang menatap pada sang lawan bicara.

“Lo,” telunjuk kanannya ia ketukkan sekali di titik awal jemarinya berada.

“Ga pantes,” ketukan kedua dengan daya yang lebih kuat terasa, terjadi berurutan dengan untaian kata.

“Di Moran.” Ketukan terakhir bersama dorongan kuat di dada menjadi bukti bahwa kata-kata yang Theo tekankan sedari tadi bukanlah bualan semata.

Theo tarik kembali jari-jemarinya dari dada Jnata. Setelahnya, sebuah seringai menyebalkan tercipta dari bibir tipis lelaki itu. “Loser,” bisiknya kemudian dengan nada yang sengak didengar telinga.

Persetan dengan kata teman, Jnata yang sudah kepalang emosi pun langsung meninju perut Theo beberapa kali yang mana membuat pemuda itu sedikit merunduk.

Saat pukulan Jnata mulai melemah, Theo menggunakan kesempatan ini untuk merogoh saku celananya— mengambil cutter di bagian terdalam, dan langsung membalas tinjuan itu dengan cutter yang selalu ia bawa kemanapun.

“AKHH!”

Jnata menggeram seraya mundur beberapa langkah menatap lengannya yang mengeluarkan darah segar dan terlihat sayatan yang kira-kira panjangnya 5 sentimeter dengan kedalaman 2 milimeter. Sayatan yang diberikan Theo bukan main sakitnya.

Napas keduanya memburu, berlomba-lomba meraup oksigen yang berada di sekitarnya.

Jnata terkekeh sarkas sembari bertepuk tangan seraya melepas kasar dasi yang terasa mencekik, menghiraukan luka sayatannya yang menganga serta mengambil langkah maju kembali mendekat, “Gini cara main lo? Hahaha man, lo ga lebih dari seorang pecundang ya ternyata?”

“Lo yang pecundang Jnata,” desisnya.

Entah siapa yang memulai kembali pertarungan ini, yang jelas sudah lebih dari 30 menit mereka saling meninju, menendang, membanting dan sesekali Theo memberikan sayatannya lagi pada tubuh Jnata.

Kini, kondisi Theo semakin mengenaskan dengan baju yang robek di beberapa bagian, darah keluar dari mulut, lebam biru di mana-mana, serta bibirnya yang robek.

Kaki Jnata sedang berada di atas dada Theo—menekannya kuat— yang mana membuat pemuda itu bernapas tersengal-sengal, seraya tangannya mengarahkan cutter yang ia pegang ke arah sang pemilik yang berada di bawahnya.

Jnata tak kalah kacaunya dengan Theo, sayatan di kedua lengan dan leher serta beberapa di wajahnya membuat pemuda kelahiran Pasundan itu terlihat seperti korban siksaan psikopat.

Jnata menyugarkan rambutnya ke belakang, masih dengan posisi semula dengan tambahan daya yang lebih kuat, “So. Theo Adnan, lo masih mau ngelawan gue?”