( 2 ) Prepare Moran.
Tak terasa jam telah menunjukkan pukul setengah lima sore, kini seluruh anggota Moran sedang duduk bersama di halaman depan mokas. Terkecuali Jnata seorang diri yang berdiri tengah mengatur strategi.
“Reksa, Theo, Erik, lo bertiga urus bagian belakang jangan sampe ada yang luka parah.”
“Yanuar di barisan tengah.”
“Gue sama leo paling depan.”
“Barisan depan sama tengah gue saranin pake panci di kepala, kalau bisa sekalian spatula buat nangkis lawan.”
Arahan terakhir dari Jnata sontak membuat sebagian anggota terkekeh geli membayangkan tawuran yang biasanya sangar berubah menjadi master chef.
Theo mengangkat tangan, “Lo pikir kita mau mau main masak-masakan apa gimana, Nat?” kekehan sarkas keluar dari bibir pemuda itu.
Jnata balas menatap tajam Theo, “Gue serius! Seenggaknya, kejadian empat bulan lalu si Ibnu yang kepalanya bocor ga bakalan keulang lagi Yo.”
Theo menaikan satu alisnya seraya kepala sedikit di miring kan, “Ya ga pake panci juga Jnata! Kita bisa bawa yang lebih dari itu,” Theo menjeda dengan bangun dari duduknya.
“Bawa tongkat baseball atau gear motor? Anak Raksa kebanyakan pada bawa tongkat sama besi lho Nat? Lo yakin kita bisa bertahan cuma pake itu? Saran gue harus lo pertimbangin lagi.”