Mogok.
Abi memelankan laju motornya di kawasan sepi penduduk saat melihat seorang yang ia kenali tengah mendorong motornya dengan gontay seperti orang mabuk.
Hari sudah hampir malam, pertanyaan yang ada di benaknya ialah ada apa dengan pemuda bermata coklat terang di sana? tidak mungkin sehabis tawuran, karena tawuran minggu ini diadakan sama seperti minggu sebelumnya.
Mematikan mesinnya di samping laki-laki itu, sekali lagi ia ingin memastikan agar tidak salah orang, “Jnata?”
Orang yang dipanggil sontak menghentikan pergerakan mendorongnya dan menoleh— ingin melihat siapa yang memanggil, “Lo? Ngapain disini?”
Yang di tanya balik merotasikan matanya, “Seharusnya gue yang nanya, ngapain lo dorong motor magrib magrib? Mu—
“Mogok, puas lo?” sela Jnata tidak santai.
“Naik ke motor lo, gue bantu dorong pake kaki dari belakang,” Jnata mengerinyit tak mengerti, belum sempat menyuarakan protesnya Abi menyela, “Bengkel masih 1 kilo dari sini, kaki lo udah gemeteran gitu, lo yakin kuat dorong?” ah iya, ia lupa belum makan apapun sedari pagi
Ingin protes tapi ucapan Abi ada benarnya juga, ingin mengiyakan tetapi ia gengsi, siapapun tolong pukul kepala Jnata untuk tidak berfikir lama karena langit sudah sangat mendung.
“Kalau lo ga mau juga terserah, gue cuma mau ngingetin bentar lagi hujan di sini banyak begal Nata.”
Finalnya mereka berdua di sini— di depan bengkel yang naasnya sudah tutup entah sedari kapan.
Abi melirik Jnata yang tengah terduduk di salah satu kursi besi sedang mempertimbangkan penawaran lainnya. Omong-omong, menurutnya penampilan pemuda di depannya ini sangat mengerikan layaknya tawanan psikopat yang sedang kabur.
Jnata menipiskan bibir, ini penawaran yang sulit baginya. Di satu sisi, penawaran yang Abi tawarkan bisa sedikit menyelamatkannya dari omelan sang mamah, tapi di satu sisi lainnya ia merasa gengsi dan juga tidak enak hati.
Ingin meminta bantuan pada teman-temannya tetapi ponsel yang ia miliki sudah kehabisan daya beberapa jam lalu sebelum motornya mogok.
Jnata menghela napas sebentar sebelum menjawab dan menatap lurus sang lawan bicara, “Iya, gue mau ikut pulang ke rumah lo.”