nomincitty

rumah

#Rumah Reksa.

Dengan seragam sekolah yang masih melekat, mereka pergi menuju ke rumah Reksa menggunakan para PAsukan keNDAraan atau yang biasa mereka singkat—PANDA, pasukan PANDA diantara lain ada; PDI milik Jnata, BMKG milik Erik dan Ultramen kesayangan Yanuar yang selalu ia bawa untuk mengangkut anggota Moran saat tawuran maupun perkumpulan biasa.

Dan pada akhirnya pun mereka disini—dirumah Reksa dengan segala keperluan yang ditunjang oleh adik Reksa; bahan utama ( karet ) serta bahan pangan batagor suplemen dari Theo.

“Abang! Karet aku jangan sampe putus!” Seru anak kecil berusia enam tahun itu dari lantai dua.

“IYAAA!” Reksa menyahut dari lantai bawah.

“Adek lo boleh buat gue aja ga Sa?” Reksa melirik sinis Yanuar, “Langkahin dulu mayat gue,” tukasnya seraya berjalan mendahului Yanuar.

Permainan pun dimulai dengan hompimpah,

“Hompimpa alaium gambreng.” Empat dari enam membalikkan tangan.

“Mak ijah pake baju rombeng.” Dua dari antara mereka—Erik dan Leo menjadi pemegang karet pertama.

Dimulai dari lompatan paling dasar—dua orang berjongkok sampai tali karet itu mengenai tanah yang mereka pijak.

Saat sedang merdeka jongkok, salah satu kaki Theo tak sengaja menginjak talinya yang membuat ia harus bergantian dengan Erik sebagai pemegang karet.

Lalu disusul pergantian Leo dengan Reksa saat tali berada dada.

Tak terasa permainan hampir selesai dibabak pertama—merdeka berdiri, dimana mereka bergantian melompat hanya dalam satu kali percobaan.

“Ah anying, aing nyerah lur meuni susah pisan ieu.” lesu Yanuar yang sudah kelelahan.

“Kalah lo sama adek gue.” ledek Reksa.

“Kalau misal yang bisa ngelewatin babak pertama ada lebih dari satu orang kumaha brader?”

“Babak final terakhir suit.”