Keen Kalyan

Setelah sesi cuci darah yang berlangsung lebih dari tiga jam lamanya selesai, Jester memutuskan untuk menghampiri Keen. Rasa penasaran sekaligus kekecewaan bercampur menjadi satu saat melihat Keen belum juga kembali membuka matanya.

Jester berinisiatif untuk mengusap pelan bahu dari tubuh yang terlihat sangat rapuh dari terakhir kali ia lihat, ah ngomong-ngomong sudah berapa lama ia tidak bertemu kekasihnya secara langsung? sebulan yang lalu lebih tepatnya. Pergerakan tangan Jester di bahu Keen membuat pemuda itu bangun terkejut.

“Kamu bisa jelasin semua ini Keen?”

Terdiam sejenak menetralisir rasa sakitnya, Keen kembali menatap Jester dengan raut penuh kekhawatiran. Mata Keen tidak bisa berbohong bahwa ia masih sangat syok dan masih mencerna apa yang sedang terjadi, ini seperti mimpi buruk baginya.

Setelah beberapa saat terdiam, Keen pun menjawab, “Kita sama.” Dengan deru napas yang tidak beraturan.

“Sejak kapan?” tanya Jester lagi.

“Lebih lama dari kamu, Jester.”

“Kenapa kamu nutupin semua ini dari aku? Kenapa? Kamu ini anggep aku apa?” Suara Jester terdengar lebih parau dari sebelumnya, efek dari cuci darah yang ia lakukan beberapa saat lalu masih terasa membuat ia mau tidak mau harus mendudukkan tubuhnya di salah satu bankar yang tersedia.

“Karena aku tau, kita gak bisa berjuang bareng Jester,” ungkap Keen sendu.

“BISA!”

“Kita bisa berjuang bareng kalau dari awal kamu mau jujur sama aku!” Sambungnya.

Napas Jester mengebu. Buliran air matanya terjun bebas mengenai lantai yang ia pijak.

Seruan itu seperti angin berlalu. Kerongkongannya terasa tercekat membuat nafasnya semakin tidak beraturan.

Daksanya mati rasa. Tubuhnya bergetar hebat hingga perawat yang berada di sana langsung mengerumuninya, dan di detik selanjutnya, ia dilarikan ke unit gawat darurat.