<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>nomincitty</title>
    <link>https://nomincitty.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 03 Apr 2026 23:26:59 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Bumi Pasundan, 18.00.</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/bumi-pasundan-18-00?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Terhitung sudah dua jam lebih lamanya langit membasahi bumi Pasundan, mengguyur gedung-gedung serta bangunan kecil di sekitarnya.&#xA;&#xA;Kalang kabut kendaraan serta pejalan kaki berlalu lalang tak mengidahi hujan, terkadang pula menerobos rambu lalu lintas demi cepat mencapai tempat tujuan.&#xA;&#xA;Sepasang pemuda pemudi berjaket denim dan berhoodie pink berjalan santai menyusuri trotoar mall yang tertutupi dengan atap kaca, bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih bahagia tanpa tahu betul perasaan yang sebenarnya.&#xA;&#xA;Jnata melihat bangku kosong yang berjarak beberapa meter dari jangkauannya, ia memutuskan untuk duduk sebentar sembari menunggu hujan reda. &#xA;&#xA;Hawa dingin semakin menerpa, hujan disertai angin kencang memang perpaduan yang pas untuk mengeluarkan keluh kesah pada sang pencipta, tapi tidak untuk saat ini.&#xA;&#xA;Jnata merapatkan tubuhnya pada sang kekasih, &#34;Kamu kedinginan? Mau pake jaket aku nggak? Apa mau masuk lagi aja?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan berturut-turut itu membuat perempuan di sampingnya tersenyum manis, &#34;Enggak perlu Nanat. lagian motor kamu kan di sekitar sini, kalau kita masuk lagi yang ada bolak balik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tunggu sebentar lagi, kalau hujannya nggak reda-reda kita masuk,&#34; sambungnya di sertai genggaman tangan yang semakin erat untuk meyakinkan Jnata bahwa ia baik-baik saja.&#xA;&#xA;Jnata mengangguk sebagai jawaban, kemudian bertanya kembali, &#34;Abis ini kamu mau langsung pulang nggak?&#34; Jnata menata surai sembari menatap lembut sang kekasih.&#xA;&#xA;Ica menggeleng pelan, masih dengan tatapan kosong menghadap ke arah kendaraan yang berjejer rapih di depannya, &#34;Mau jalan-jalan lagi, boleh kan? Belakangan ini kamu udah jarang banget jalan sama aku, Nat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh, kamu mau kemana?&#34;&#xA;&#xA;Ica menatap balik manik teduh lawan bicara di sampingnya, tangannya yang semula menggenggam kini ia sisipkan di tengah-tengah lengan keduanya, &#34;Cafe di sekitar sini mau gak? Banyak yang bilang cafenya beda dari yang lain gitu, aku penasaran deh,&#34; dua pasang mata berukuran minim itu memancarkan kebahagiaan terdalam.&#xA;&#xA;Jnata mengangguk, menyutujui atas usul sang kekasih.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Terhitung sudah dua jam lebih lamanya langit membasahi bumi Pasundan, mengguyur gedung-gedung serta bangunan kecil di sekitarnya.</p>

<p>Kalang kabut kendaraan serta pejalan kaki berlalu lalang tak mengidahi hujan, terkadang pula menerobos rambu lalu lintas demi cepat mencapai tempat tujuan.</p>

<p>Sepasang pemuda pemudi berjaket denim dan ber<em>hoodie pink</em> berjalan santai menyusuri trotoar <em>mall</em> yang tertutupi dengan atap kaca, bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih bahagia tanpa tahu betul perasaan yang sebenarnya.</p>

<p>Jnata melihat bangku kosong yang berjarak beberapa meter dari jangkauannya, ia memutuskan untuk duduk sebentar sembari menunggu hujan reda.</p>

<p>Hawa dingin semakin menerpa, hujan disertai angin kencang memang perpaduan yang pas untuk mengeluarkan keluh kesah pada sang pencipta, tapi tidak untuk saat ini.</p>

<p>Jnata merapatkan tubuhnya pada sang kekasih, “Kamu kedinginan? Mau pake jaket aku nggak? Apa mau masuk lagi aja?”</p>

<p>Pertanyaan berturut-turut itu membuat perempuan di sampingnya tersenyum manis, “Enggak perlu Nanat. lagian motor kamu kan di sekitar sini, kalau kita masuk lagi yang ada bolak balik.”</p>

<p>“Tunggu sebentar lagi, kalau hujannya nggak reda-reda kita masuk,” sambungnya di sertai genggaman tangan yang semakin erat untuk meyakinkan Jnata bahwa ia baik-baik saja.</p>

<p>Jnata mengangguk sebagai jawaban, kemudian bertanya kembali, “Abis ini kamu mau langsung pulang nggak?” Jnata menata surai sembari menatap lembut sang kekasih.</p>

<p>Ica menggeleng pelan, masih dengan tatapan kosong menghadap ke arah kendaraan yang berjejer rapih di depannya, “Mau jalan-jalan lagi, boleh kan? Belakangan ini kamu udah jarang banget jalan sama aku, Nat.”</p>

<p>“Boleh, kamu mau kemana?”</p>

<p>Ica menatap balik manik teduh lawan bicara di sampingnya, tangannya yang semula menggenggam kini ia sisipkan di tengah-tengah lengan keduanya, “Cafe di sekitar sini mau gak? Banyak yang bilang cafenya beda dari yang lain gitu, aku penasaran deh,” dua pasang mata berukuran minim itu memancarkan kebahagiaan terdalam.</p>

<p>Jnata mengangguk, menyutujui atas usul sang kekasih.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/bumi-pasundan-18-00</guid>
      <pubDate>Sun, 30 Jan 2022 12:18:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>What&#39;s wrong with Abishaka?</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/whats-wrong-with-abishaka?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Ravel menyikut lengan Abishaka, memberi kode pemuda itu untuk mengalihkan pandangannya pada sepasang kekasih yang sedang duduk di salah satu kursi pengunjung, &#34;Liat deh, ada ketua moran lagi pacaran,&#34; bisiknya di sela-sela waktu istirahat.&#xA;&#xA;Abishaka yang sedang membetulkan senar gitar sontak mengalihkan pandangannya, tertarik untuk melihat interaksi Jnata dan sang kekasih.&#xA;&#xA;Ada rasa sendu yang menghampiri hati, berusaha untuk bersikap biasa saja tapi nyatanya kedua pasang matanya tidak bisa untuk diajak berkerja sama.&#xA;&#xA;Jnata tersadar akan sepasang mata yang memperhatikannya, mengerjap pelan, menatap balik Abishaka yang melihatnya dengan tatapan sinis? Apa mungkin perasaannya saja?&#xA;&#xA;Pemuda itu mengerinyit tak mengerti mengapa sang rival yang biasanya menatapnya lembut kini terlihat merasa kesal.&#xA;&#xA;Ada apa dengan Abishaka?]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Ravel menyikut lengan Abishaka, memberi kode pemuda itu untuk mengalihkan pandangannya pada sepasang kekasih yang sedang duduk di salah satu kursi pengunjung, “Liat <em>deh</em>, ada ketua moran lagi pacaran,” bisiknya di sela-sela waktu istirahat.</p>

<p>Abishaka yang sedang membetulkan senar gitar sontak mengalihkan pandangannya, tertarik untuk melihat interaksi Jnata dan sang kekasih.</p>

<p>Ada rasa sendu yang menghampiri hati, berusaha untuk bersikap biasa saja tapi nyatanya kedua pasang matanya tidak bisa untuk diajak berkerja sama.</p>

<p>Jnata tersadar akan sepasang mata yang memperhatikannya, mengerjap pelan, menatap balik Abishaka yang melihatnya dengan tatapan sinis? Apa mungkin perasaannya saja?</p>

<p>Pemuda itu mengerinyit tak mengerti mengapa sang rival yang biasanya menatapnya lembut kini terlihat merasa kesal.</p>

<p>Ada apa dengan Abishaka?</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/whats-wrong-with-abishaka</guid>
      <pubDate>Sun, 30 Jan 2022 12:14:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Breakfast with Abishaka</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/breakfast-with-abishaka?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sampailah mereka di sini, di tempat makan yang Abi sarankan.&#xA;&#xA;Sebuah kedai seafood dengan beberapa ornamen laut pelengkap yang sangat khas.&#xA;&#xA;Jaraknya memang lumayan jauh dari ibu kota, karena memang mereka sengaja melakukan ini untuk menghindari jika ada anggota Moran atau Raksa yang melihat.&#xA;&#xA;Walaupun di peraturan tertulis tidak ada larangan bila anggota Raksa dan Moran tidak boleh berteman. Hanya antisipasi saja&#xA;&#xA;Abi tengah melihat-lihat daftar menu yang tersedia, pandangannya kini tertuju pada Jnata yang melamun menatap sekelilingnya,  &#34;Lo mau pesen apa?&#34;&#xA;&#xA;Jnata menoleh—memusatkan pandangannya pada Abi, &#34;Samain aja kaya lo, gue bingung.&#34;&#xA;&#xA;Setelah Jnata mengatakan itu Abi lantas memanggil salah satu waiters untuk mulai memesan makanan.&#xA;&#xA;&#34;Cumi, kepiting, kerang saus tiram sama es teh dua mas.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Saus tiram semua kak?&#34;&#xA;&#xA;Abi memberi jawaban dengan tersenyum seraya mengangguk.&#xA;&#xA;Setelahnya, Waiters dengan cekatan menulis apa yang pemuda itu pesan.&#xA;&#xA;Jnata yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi Abi dengan sang waiters pun akhirnya mulai membuka percakapan kembali.&#xA;&#xA;&#34;Mewah banget tempatnya,&#34; gumam Jnata seraya menumpukan sikunya pada meja, pandangannya kembali memperhatikan sekitar.&#xA;&#xA;Abi mengangguk samar menyetujui ucapan pemuda di hadapannya, serta ikut memperhatikan kondisi tempat makan yang mereka datangi, &#34;Walaupun keliatan mewah, tapi harganya murah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kok lo bisa tau tempat se cakep ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sebenernya ini tempat makan lama, tapi emang belum banyak yang tau. Gue pertama kali kesini sama Bunda sekitar 7 tahun yang lalu mungkin.&#34; Raut wajah Abi mulai berubah sendu yang tak terlalu ketara, kinerja otaknya mulai memutar memori indahnya bersama sang ibunda sebelum kenangan pahit menyita waktu yang begitu lama.&#xA;&#xA;Jnata yang mulai merasa suasana menjadi sendu pun berinisiatif untuk mengalihkan topik, &#34;Eh, ini jam berapa Bi?&#34;&#xA;&#xA;Abi merogoh saku celananya—mengambil handphone untuk di letakkan di atas meja agar mereka berdua bisa melihat jam yang tertera di sana.&#xA;&#xA;&#34;Jam dua Nat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Breakfast kita kepagian ya Bi.&#34;&#xA;&#xA;Abi terkekeh menanggapi ucapan Jnata sampai kedua matanya seperti hilang di telan bumi, ah lebih tepatnya itu kekehan maut yang membuat pemuda di hadapannya merasakan hal yang seharusnya tidak ia rasakan.&#xA;&#xA;Jnata langsung menepis perasaan itu dengan berfikir positif ini bukan karena kekehan Abi, melainkan udara dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri serta jantungnya yang berdetak cepat.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sampailah mereka di sini, di tempat makan yang Abi sarankan.</p>

<p>Sebuah kedai <em>seafood</em> dengan beberapa ornamen laut pelengkap yang sangat khas.</p>

<p>Jaraknya memang lumayan jauh dari ibu kota, karena memang mereka sengaja melakukan ini untuk menghindari jika ada anggota Moran atau Raksa yang melihat.</p>

<p>Walaupun di peraturan tertulis tidak ada larangan bila anggota Raksa dan Moran tidak boleh berteman. <em>Hanya antisipasi saja</em></p>

<p>Abi tengah melihat-lihat daftar menu yang tersedia, pandangannya kini tertuju pada Jnata yang melamun menatap sekelilingnya,  “Lo mau pesen apa?”</p>

<p>Jnata menoleh—memusatkan pandangannya pada Abi, “Samain aja kaya lo, gue bingung.”</p>

<p>Setelah Jnata mengatakan itu Abi lantas memanggil salah satu <em>waiters</em> untuk mulai memesan makanan.</p>

<p>“Cumi, kepiting, kerang saus tiram sama es teh dua mas.”</p>

<p>“Saus tiram semua kak?”</p>

<p>Abi memberi jawaban dengan tersenyum seraya mengangguk.</p>

<p>Setelahnya, <em>Waiters</em> dengan cekatan menulis apa yang pemuda itu pesan.</p>

<p>Jnata yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi Abi dengan sang <em>waiters</em> pun akhirnya mulai membuka percakapan kembali.</p>

<p>“Mewah banget tempatnya,” gumam Jnata seraya menumpukan sikunya pada meja, pandangannya kembali memperhatikan sekitar.</p>

<p>Abi mengangguk samar menyetujui ucapan pemuda di hadapannya, serta ikut memperhatikan kondisi tempat makan yang mereka datangi, “Walaupun keliatan mewah, tapi harganya murah.”</p>

<p>“Kok lo bisa tau tempat se cakep ini?”</p>

<p>“Sebenernya ini tempat makan lama, tapi emang belum banyak yang tau. Gue pertama kali kesini sama Bunda sekitar 7 tahun yang lalu <em>mungkin</em>.” Raut wajah Abi mulai berubah sendu yang tak terlalu ketara, kinerja otaknya mulai memutar memori indahnya bersama sang ibunda sebelum kenangan pahit menyita waktu yang begitu lama.</p>

<p>Jnata yang mulai merasa suasana menjadi sendu pun berinisiatif untuk mengalihkan topik, “Eh, ini jam berapa Bi?”</p>

<p>Abi merogoh saku celananya—mengambil handphone untuk di letakkan di atas meja agar mereka berdua bisa melihat jam yang tertera di sana.</p>

<p>“Jam dua Nat.”</p>

<p>“<em>Breakfast</em> kita kepagian ya Bi.”</p>

<p>Abi terkekeh menanggapi ucapan Jnata sampai kedua matanya seperti hilang di telan bumi, <em>ah lebih tepatnya</em> itu kekehan maut yang membuat pemuda di hadapannya merasakan hal yang seharusnya tidak ia rasakan.</p>

<p>Jnata langsung menepis perasaan itu dengan berfikir positif ini bukan karena kekehan Abi, melainkan udara dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri serta jantungnya yang berdetak cepat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/breakfast-with-abishaka</guid>
      <pubDate>Mon, 17 Jan 2022 11:42:30 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tawuran atau Konser musik?</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/tawuran-atau-konser-musik?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Dari arah kanan sebagian anggota Raksa terlihat membawa besi, sementara yang lainnya membawa balok kayu.&#xA;&#xA;Sedangkan dari arah sebrang, terlihat anggota Moran yang lebih santai hanya berbekal alat masak seperti minggu lalu dengan tambahan beberapa batu di dalam panci dan serta memperbanyak pasokan teflon—tentu saja ini ide Jnata.&#xA;&#xA;Dari arah belakang Moran, terdapat sound musik layaknya orang hajatan yang di bawa oleh ultramen milik yanuar—tentunya dengan persetujuan kedua belah pihak agar kejadian minggu lalu tidak terulang kembali.&#xA;&#xA;Alunan musik bertajuk kemesraan ini milik Iwan fals mengalun merdu menambah semangat para pelajar tawuran absrud ini.&#xA;&#xA;&#34;KEMESRAAN INI, JANGANLAH CEPAT BERLALUU.&#34; kolaborasi antara suara merdu dan fals milik anggota Moran semakin membakar semangat.&#xA;&#xA;&#34;KEMESRAAN INI, INGIN KU KENANG SELALU.&#34; Raksa melanjutkan lirik.&#xA;&#xA;Sesampainya di pertengahan tepat saat akan pergantian musik selanjutnya di mulai, Jnata berkomando, &#34;SERANGGGG ANJENGGG!!!&#34;&#xA;&#xA;Besi dan balok kayu beradu dengan alat masak, perpaduan yang sangat pas.&#xA;&#xA;----------------------------&#xA;&#xA;Jnata berusaha menangkis balok kayu milik Abi yang beberapa kali mengenai bahu serta bagian tubuhnya yang lain.&#xA;&#xA;Saat di rasa Abi sedikit lengah, Jnata pun mulai membalas dengan lebih sadis.&#xA;&#xA;Dua teflon di sisi kanan dan kiri  yang ia pegang di ayunkan untuk menangkis balok kayu serta memukul kepala bagian belakang Abi, membuat pemuda berhoodie hitam itu menjadi oleng ke persekian detik. Karena demi Tuhan, sakitnya bukan main.&#xA;&#xA;25 menit berlalu, kini hasil dua kubu tersebut seri. Empat anggota Moran terluka cukup parah, Raksa pun demikian.&#xA;&#xA;Musik yang telah berganti genre menjadi melow pun ikut menambah kesan suram pada tawuran tersebut.&#xA;&#xA;Darah di sebagian baju, luka gores, serta lebam-lebam di sekitar tubuh dan wajah dapat memberi gambaran betapa sadisnya tawuran ini.&#xA;&#xA;Hanya karena memperebutkan jumlah uang dengan nominal yang tidak seberapa mereka rela, rela babak belur, rela mendapatkan jahitan di beberapa bagian tubuh serta kepala, dan rela bertarung nyawa demi mempertahankan gengsi untuk mengalah.&#xA;&#xA;&#34;Spy lo bakalan jadi milik gue,&#34; desis Jnata.&#xA;&#xA;&#34;No prob, gue serahin diri gue buat lo.&#34;&#xA;&#xA;Okay .... Abishaka mulai sedikit gila.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Dari arah kanan sebagian anggota Raksa terlihat membawa besi, sementara yang lainnya membawa balok kayu.</p>

<p>Sedangkan dari arah sebrang, terlihat anggota Moran yang lebih santai hanya berbekal alat masak seperti minggu lalu dengan tambahan beberapa batu di dalam panci dan serta memperbanyak pasokan teflon—tentu saja ini ide Jnata.</p>

<p>Dari arah belakang Moran, terdapat <em>sound</em> musik layaknya orang hajatan yang di bawa oleh ultramen milik yanuar—tentunya dengan persetujuan kedua belah pihak agar kejadian minggu lalu tidak terulang kembali.</p>

<p>Alunan musik bertajuk <em>kemesraan ini</em> milik Iwan fals mengalun merdu menambah semangat para pelajar tawuran absrud ini.</p>

<p>“KEMESRAAN INI, JANGANLAH CEPAT BERLALUU.” kolaborasi antara suara merdu dan fals milik anggota Moran semakin membakar semangat.</p>

<p>“KEMESRAAN INI, INGIN KU KENANG SELALU.” Raksa melanjutkan lirik.</p>

<p>Sesampainya di pertengahan tepat saat akan pergantian musik selanjutnya di mulai, Jnata berkomando, “SERANGGGG ANJENGGG!!!”</p>

<p>Besi dan balok kayu beradu dengan alat masak, perpaduan yang sangat <em>pas</em>.</p>

<hr/>

<p>Jnata berusaha menangkis balok kayu milik Abi yang beberapa kali mengenai bahu serta bagian tubuhnya yang lain.</p>

<p>Saat di rasa Abi sedikit lengah, Jnata pun mulai membalas dengan lebih sadis.</p>

<p>Dua teflon di sisi kanan dan kiri  yang ia pegang di ayunkan untuk menangkis balok kayu serta memukul kepala bagian belakang Abi, membuat pemuda berhoodie hitam itu menjadi oleng ke persekian detik. Karena demi Tuhan, sakitnya bukan main.</p>

<p>25 menit berlalu, kini hasil dua kubu tersebut seri. Empat anggota Moran terluka cukup parah, Raksa pun demikian.</p>

<p>Musik yang telah berganti <em>genre</em> menjadi <em>melow</em> pun ikut menambah kesan suram pada tawuran tersebut.</p>

<p>Darah di sebagian baju, luka gores, serta lebam-lebam di sekitar tubuh dan wajah dapat memberi gambaran betapa sadisnya tawuran ini.</p>

<p>Hanya karena memperebutkan jumlah uang dengan nominal yang tidak seberapa mereka rela, rela babak belur, rela mendapatkan jahitan di beberapa bagian tubuh serta kepala, dan rela bertarung nyawa demi mempertahankan gengsi untuk mengalah.</p>

<p>“Spy lo bakalan jadi milik gue,” desis Jnata.</p>

<p>“<em>No prob</em>, gue serahin diri gue buat lo.”</p>

<p><em>Okay</em> .... Abishaka mulai sedikit gila.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/tawuran-atau-konser-musik</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Jan 2022 05:57:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kamis</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/kamis?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Pertemuan para anggota Raksa terkesan lebih santai dari pada yang di lakukan Moran.&#xA;&#xA;Anggota yang berjumlah 50 orang ini kini sedang berada di dalam ruangan—tentunya di markas besar Raksa dengan Abi yang sedang memberi pengarahan.&#xA;&#xA;&#34;So, anybody asking?&#34;&#xA;&#xA;Ravel dari arah tengah mengangkat tangan, setelah di beri instruksi Abi untuk menjawab ia pun bertanya, &#34;Gue ada saran, gimana kalau sebelum tawuran kita ngeblok jalan dulu?&#34;&#xA;&#xA;Salah satu menyahut, &#34;Apa nggak bahaya? Ribet kalau mau kabur kaburan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Betul juga, tapi maksud gue ini buat ngantisipasi ibu-ibu nyerang kaya kemaren.&#34;&#xA;&#xA;Abi menyahut, &#34;Gue setuju sama lo Vel, tapi gue juga setuju sama pendapat dia. Gini deh,&#34; Abi menghela napas, &#34;Kita blok jalan pake bambu panjang kaya seolah-olah ada hajatan, kalau perlu beneran dikasih kertas jalan di tutup sedang ada hajatan. Jadi buat kabur kita tinggal nyelonong, ga perlu angkat-angkat, gimana?&#34;&#xA;&#xA;Yang lain mengangguk setuju usul Abi.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Pertemuan para anggota Raksa terkesan lebih santai dari pada yang di lakukan Moran.</p>

<p>Anggota yang berjumlah 50 orang ini kini sedang berada di dalam ruangan—tentunya di markas besar Raksa dengan Abi yang sedang memberi pengarahan.</p>

<p>“<em>So, anybody asking</em>?”</p>

<p>Ravel dari arah tengah mengangkat tangan, setelah di beri instruksi Abi untuk menjawab ia pun bertanya, “Gue ada saran, gimana kalau sebelum tawuran kita ngeblok jalan dulu?”</p>

<p>Salah satu menyahut, “Apa nggak bahaya? Ribet kalau mau kabur kaburan.”</p>

<p>“Betul juga, tapi maksud gue ini buat ngantisipasi ibu-ibu nyerang kaya kemaren.”</p>

<p>Abi menyahut, “Gue setuju sama lo Vel, tapi gue juga setuju sama pendapat dia. Gini deh,” Abi menghela napas, “Kita blok jalan pake bambu panjang kaya seolah-olah ada hajatan, kalau perlu beneran dikasih kertas <em>jalan di tutup sedang ada hajatan</em>. Jadi buat kabur kita tinggal nyelonong, ga perlu angkat-angkat, gimana?”</p>

<p>Yang lain mengangguk setuju usul Abi.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/kamis</guid>
      <pubDate>Sat, 15 Jan 2022 05:53:12 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Rumah Abi.</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/rumah-abi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Mamas?&#34;&#xA;&#xA;Pemuda berbalut jaket tebal dengan hidung yang memerah itu menatap penasaran pada seorang laki-laki yang berada di belakang punggung sang kakak.&#xA;&#xA;&#34;Itu temen baru mamas ya? Adek baru liat.&#34;&#xA;&#xA;Abi menoleh kebelakangnya, bersisitap langsung dengan Jnata yang balik penatapnya. &#xA;&#xA;Pemuda yang sedari tadi masih bertengger di daun pintu pun mulai berjalan mendekat ke arah yang ia yakini teman baru dari kakaknya itu.&#xA;&#xA;Mata berbinarnya menatap penuh rasa penasaran, memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya di depan Jnata, &#34;Aku Saddam, adiknya mamas Abi. Salam kenal, nama kakak siapa?&#34; Senyumnya mengembang seraya kepalanya mendongak menatap pemuda yang lebih tinggi darinya.&#xA;&#xA;Baru sekali melihatnya saja Jnata sudah tau, tau kalau anak di depannya ini sedikit istimewa.&#xA;&#xA;Tangan Jnata membalas ulurannya dengan senyum terbaik yang ia miliki— bahkan Abi sampai mematung di hadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Salam kenal juga Saddam, aku Jnata temennya mamas Abi. Kamu bisa panggil aku Nata.&#34; Jnata mengusak lembut surai anak di hadapannya ini seraya terkikik pelan— sedikit menggelikan rasanya bagi Jnata untuk memanggil Abi dengan sebutan &#39;mamas&#39;.&#xA;&#xA;&#34;Kakak Nata, ayo masuk,&#34; ajaknya seraya menarik lembut tangan Jnata untuk masuk ke dalam rumahnya.&#xA;&#xA;Rumah sederhana yang sangat nyaman di pandang dengan halaman yang terdapat beberapa tanaman serta sebuah ayunan kayu sederhana.&#xA;&#xA;Jnata memasuki rumah itu dengan sedikit gugup, di tambah Abi yang terus memperhatikan interaksinya dengan sang adik seolah kedua mata itu memang di buat untuk mengintai seperti cctv.&#xA;&#xA;Di ruang tengah sana terdapat seorang ibu berusia sekitar 40 tahunan dengan kursi roda yang terlihat tua, Jnata melangkahkan kakinya menuju seorang yang ia yakini Ibu dari rivalnya tersebut.&#xA;&#xA;&#34;Selamat malam Tante,&#34; sapanya halus sembari menyalami tangan pucat itu.&#xA;&#xA;Pergerakan mengegakkan tubuhnya terhenti saat wanita di hadapannya menaruh telapak tangan disekitar wajah lebam Jnata, &#34;Malam nak, wajah kamu kenapa?&#34; tanyanya dengan nada khawatir dan raut sedih yang ketara, seraya menyusuri wajah itu dengan hati-hati.&#xA;&#xA;Jnata tersenyum manis, &#34;Aku gapapa kok tan, cuma di cakar kucing tadi,&#34; sedikit berbohong tidak apa-apa bukan? pasalnya ia sedikit merasa bersalah ketika melihat wanita tua di hadapannya ini yang malah mengkhawatirkannya. Seharusnya ia marah, marah karena anak sulung kesayangannya mendapatkan teflon melayang dari Jnata secara cuma-cuma beberapa hari yang lalu, bahkan bekasnya pun masih tercetak dengan jelas.&#xA;&#xA;Wanita tua dengan mantel coklat yang membalut tubuh ringkihnya itu mengisyaratkan sang anak tertua untuk mendekat— membantunya untuk duduk di kursi, &#34;Mamas, tolong bawain baskom, air dingin, sama kotak P3K di tempat biasa ya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sini duduk di samping Bunda nak,&#34; sangat menyenangkan rasanya mendapatkan perlakuan baik dari seorang ibu seperti ibu Abi ini, senyum dari wajah ayunya tak pernah pudar barang sedetik pun. Kedua tangannya tak dibiarkan menganggur, tangan kirinya ia daratkan untuk mengusap lembut surai sang anak, sedangkan tangan kanannya merangkul pundak Jnata.&#xA;&#xA;Ah Rasanya, Jnata ingin pulang ke rumah dan memeluk sang mama.&#xA;&#xA;Acara mengompres lebam serta mengobati luka sayatan yang seharusnya di lakukan Abi, malah di lakukan oleh sang bunda. Karena ia sangat khawatir anaknya tidak bisa mengobati dengan telaten dan benar.&#xA;&#xA;Jelas ibu Abi tau ini bukan luka cakaran kucing ataupun hewan lainnya. Tapi, untuk menghargai Jnata yang tidak ingin bercerita ia bisa apa selain berpura-pura percaya.&#xA;&#xA;Hei! Mana ada luka yang disebabkan oleh hewan bisa membuat manusia lebam seperti ini. &#xA;&#xA;&#34;Nah, udah selesai.&#34; Ibu Abi tersenyum geli melihat Jnata yang tampak seperti orang sehabis melakukan operasi dengan perban dan juga beberapa olesan salep.&#xA;&#xA;Jnata membalas dengan senyum canggung, &#34;Terima kasih tante, maaf aku ngerepotin,&#34; katanya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.&#xA;&#xA;Abella— ibunda Abi mengusap lembut punggung Jnata yang berada di sampingnya, &#34;Gapapa Nata, kamu nginep sini aja ya? udah malem, pulangnya besok pagi.&#34; &#xA;&#xA;Jnata menatap ke arah Abi yang berada di kursi sebrang sedang memeluk sang adik, mengode untuk membantunya menolak tawaran sang bunda. Namun, sialnya Abi yang tak peka hanya mengerutkan kening pertanda ia tak mengerti apa maksud Jnata.&#xA;&#xA;Jnata mengehala napas, kembali menatap Abella yang menunggu jawabannya, &#34;Maaf tante, mungkin lain kali. Aku belum ijin sama mamah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yasudah, gapapa Nata. Tapi kamu makan malam di sini dulu ya?&#34; Abella menatap Abi, &#34;Abi, nanti tolong antarkan Nata pulang ya nak.&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Mamas?”</p>

<p>Pemuda berbalut jaket tebal dengan hidung yang memerah itu menatap penasaran pada seorang laki-laki yang berada di belakang punggung sang kakak.</p>

<p>“Itu temen baru mamas ya? Adek baru liat.”</p>

<p>Abi menoleh kebelakangnya, bersisitap langsung dengan Jnata yang balik penatapnya.</p>

<p>Pemuda yang sedari tadi masih bertengger di daun pintu pun mulai berjalan mendekat ke arah yang ia yakini teman baru dari kakaknya itu.</p>

<p>Mata berbinarnya menatap penuh rasa penasaran, memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya di depan Jnata, “Aku Saddam, adiknya mamas Abi. Salam kenal, nama kakak siapa?” Senyumnya mengembang seraya kepalanya mendongak menatap pemuda yang lebih tinggi darinya.</p>

<p>Baru sekali melihatnya saja Jnata sudah tau, tau kalau anak di depannya ini sedikit <em>istimewa</em>.</p>

<p>Tangan Jnata membalas ulurannya dengan senyum terbaik yang ia miliki— bahkan Abi sampai mematung di hadapannya.</p>

<p>“Salam kenal juga Saddam, aku Jnata temennya mamas Abi. Kamu bisa panggil aku Nata.” Jnata mengusak lembut surai anak di hadapannya ini seraya terkikik pelan— sedikit menggelikan rasanya bagi Jnata untuk memanggil Abi dengan sebutan &#39;mamas&#39;.</p>

<p>“Kakak Nata, ayo masuk,” ajaknya seraya menarik lembut tangan Jnata untuk masuk ke dalam rumahnya.</p>

<p>Rumah sederhana yang sangat nyaman di pandang dengan halaman yang terdapat beberapa tanaman serta sebuah ayunan kayu sederhana.</p>

<p>Jnata memasuki rumah itu dengan sedikit gugup, di tambah Abi yang terus memperhatikan interaksinya dengan sang adik seolah kedua mata itu memang di buat untuk mengintai seperti <em>cctv</em>.</p>

<p>Di ruang tengah sana terdapat seorang ibu berusia sekitar 40 tahunan dengan kursi roda yang terlihat tua, Jnata melangkahkan kakinya menuju seorang yang ia yakini Ibu dari <em>rival</em>nya tersebut.</p>

<p>“Selamat malam Tante,” sapanya halus sembari menyalami tangan pucat itu.</p>

<p>Pergerakan mengegakkan tubuhnya terhenti saat wanita di hadapannya menaruh telapak tangan disekitar wajah lebam Jnata, “Malam nak, wajah kamu kenapa?” tanyanya dengan nada khawatir dan raut sedih yang ketara, seraya menyusuri wajah itu dengan hati-hati.</p>

<p>Jnata tersenyum manis, “Aku gapapa kok tan, cuma di cakar kucing tadi,” sedikit berbohong tidak apa-apa bukan? pasalnya ia sedikit merasa bersalah ketika melihat wanita tua di hadapannya ini yang malah mengkhawatirkannya. Seharusnya ia marah, marah karena anak sulung kesayangannya mendapatkan teflon melayang dari Jnata secara cuma-cuma beberapa hari yang lalu, <em>bahkan bekasnya pun masih tercetak dengan jelas</em>.</p>

<p>Wanita tua dengan mantel coklat yang membalut tubuh ringkihnya itu mengisyaratkan sang anak tertua untuk mendekat— membantunya untuk duduk di kursi, “Mamas, tolong bawain baskom, air dingin, sama kotak P3K di tempat biasa ya.”</p>

<p>“Sini duduk di samping Bunda nak,” sangat menyenangkan rasanya mendapatkan perlakuan baik dari seorang ibu seperti ibu Abi ini, senyum dari wajah ayunya tak pernah pudar barang sedetik pun. Kedua tangannya tak dibiarkan menganggur, tangan kirinya ia daratkan untuk mengusap lembut surai sang anak, sedangkan tangan kanannya merangkul pundak Jnata.</p>

<p>Ah Rasanya, Jnata ingin pulang ke rumah dan memeluk sang mama.</p>

<p>Acara mengompres lebam serta mengobati luka sayatan yang seharusnya di lakukan Abi, malah di lakukan oleh sang bunda. Karena ia sangat khawatir anaknya tidak bisa mengobati dengan telaten dan benar.</p>

<p>Jelas ibu Abi tau ini bukan luka cakaran kucing ataupun hewan lainnya. Tapi, untuk menghargai Jnata yang tidak ingin bercerita ia bisa apa selain berpura-pura percaya.</p>

<p>Hei! Mana ada luka yang disebabkan oleh hewan bisa membuat manusia lebam seperti ini.</p>

<p>“Nah, udah selesai.” Ibu Abi tersenyum geli melihat Jnata yang tampak seperti orang sehabis melakukan operasi dengan perban dan juga beberapa olesan salep.</p>

<p>Jnata membalas dengan senyum canggung, “Terima kasih tante, maaf aku ngerepotin,” katanya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.</p>

<p>Abella— ibunda Abi mengusap lembut punggung Jnata yang berada di sampingnya, “Gapapa Nata, kamu nginep sini aja ya? udah malem, pulangnya besok pagi.”</p>

<p>Jnata menatap ke arah Abi yang berada di kursi sebrang sedang memeluk sang adik, mengode untuk membantunya menolak tawaran sang bunda. Namun, sialnya Abi yang tak peka hanya mengerutkan kening pertanda ia tak mengerti apa maksud Jnata.</p>

<p>Jnata mengehala napas, kembali menatap Abella yang menunggu jawabannya, “Maaf tante, mungkin lain kali. Aku belum ijin sama mamah.”</p>

<p>“Yasudah, gapapa Nata. Tapi kamu makan malam di sini dulu ya?” Abella menatap Abi, “Abi, nanti tolong antarkan Nata pulang ya nak.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/rumah-abi</guid>
      <pubDate>Thu, 06 Jan 2022 13:11:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Mogok.</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/mogok?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Abi memelankan laju motornya di kawasan sepi penduduk saat melihat seorang yang ia kenali tengah mendorong motornya dengan gontay seperti orang mabuk.&#xA;&#xA;Hari sudah hampir malam, pertanyaan yang ada di benaknya ialah ada apa dengan pemuda bermata coklat terang di sana? tidak mungkin sehabis tawuran, karena tawuran minggu ini diadakan sama seperti minggu sebelumnya.&#xA;&#xA;Mematikan mesinnya di samping laki-laki itu, sekali lagi ia ingin memastikan agar tidak salah orang, &#34;Jnata?&#34;&#xA;&#xA;Orang yang dipanggil sontak menghentikan pergerakan mendorongnya dan menoleh— ingin melihat siapa yang memanggil, &#34;Lo? Ngapain disini?&#34;&#xA;&#xA;Yang di tanya balik merotasikan matanya, &#34;Seharusnya gue yang nanya, ngapain lo dorong motor magrib magrib? Mu—&#xA;&#xA;&#34;Mogok, puas lo?&#34; sela Jnata tidak santai.&#xA;&#xA;&#34;Naik ke motor lo, gue bantu dorong pake kaki dari belakang,&#34; Jnata mengerinyit tak mengerti, belum sempat menyuarakan protesnya Abi menyela, &#34;Bengkel masih 1 kilo dari sini, kaki lo udah gemeteran gitu, lo yakin kuat dorong?&#34; ah iya, ia lupa belum makan apapun sedari pagi&#xA;&#xA;Ingin protes tapi ucapan Abi ada benarnya juga, ingin mengiyakan tetapi ia gengsi, siapapun tolong pukul kepala Jnata untuk tidak berfikir lama karena langit sudah sangat mendung.&#xA;&#xA;&#34;Kalau lo ga mau juga terserah, gue cuma mau ngingetin bentar lagi hujan di sini banyak begal Nata.&#34;&#xA;&#xA;----------------------------&#xA;&#xA;Finalnya mereka berdua di sini— di depan bengkel yang naasnya sudah tutup entah sedari kapan.&#xA;&#xA;Abi melirik Jnata yang tengah terduduk di salah satu kursi besi sedang mempertimbangkan penawaran lainnya. Omong-omong, menurutnya penampilan pemuda di depannya ini sangat mengerikan layaknya tawanan psikopat yang sedang kabur. &#xA;&#xA;Jnata menipiskan bibir, ini penawaran yang sulit baginya. Di satu sisi, penawaran yang Abi tawarkan bisa sedikit menyelamatkannya dari omelan sang mamah, tapi di satu sisi lainnya ia merasa gengsi dan juga tidak enak hati.&#xA;&#xA;Ingin meminta bantuan pada teman-temannya tetapi ponsel yang ia miliki sudah kehabisan daya beberapa jam lalu sebelum motornya mogok.&#xA;&#xA;Jnata menghela napas sebentar sebelum menjawab dan menatap lurus sang lawan bicara, &#34;Iya, gue mau ikut pulang ke rumah lo.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Abi memelankan laju motornya di kawasan sepi penduduk saat melihat seorang yang ia kenali tengah mendorong motornya dengan gontay seperti orang mabuk.</p>

<p>Hari sudah hampir malam, pertanyaan yang ada di benaknya ialah <em>ada apa dengan pemuda bermata coklat terang di sana? tidak mungkin sehabis tawuran, karena tawuran minggu ini diadakan sama seperti minggu sebelumnya.</em></p>

<p>Mematikan mesinnya di samping laki-laki itu, sekali lagi ia ingin memastikan agar tidak salah orang, “Jnata?”</p>

<p>Orang yang dipanggil sontak menghentikan pergerakan mendorongnya dan menoleh— ingin melihat siapa yang memanggil, “Lo? Ngapain disini?”</p>

<p>Yang di tanya balik merotasikan matanya, “Seharusnya gue yang nanya, ngapain lo dorong motor magrib magrib? Mu—</p>

<p>“Mogok, puas lo?” sela Jnata tidak santai.</p>

<p>“Naik ke motor lo, gue bantu dorong pake kaki dari belakang,” Jnata mengerinyit tak mengerti, belum sempat menyuarakan protesnya Abi menyela, “Bengkel masih 1 kilo dari sini, kaki lo udah gemeteran gitu, lo yakin kuat dorong?” <em>ah iya, ia lupa belum makan apapun sedari pagi</em></p>

<p>Ingin protes tapi ucapan Abi ada benarnya juga, ingin mengiyakan tetapi ia gengsi, siapapun tolong pukul kepala Jnata untuk tidak berfikir lama karena langit sudah sangat mendung.</p>

<p>“Kalau lo ga mau juga terserah, gue cuma mau ngingetin bentar lagi hujan di sini banyak begal Nata.”</p>

<hr/>

<p>Finalnya mereka berdua di sini— di depan bengkel yang naasnya sudah tutup entah sedari kapan.</p>

<p>Abi melirik Jnata yang tengah terduduk di salah satu kursi besi sedang mempertimbangkan penawaran lainnya. Omong-omong, menurutnya penampilan pemuda di depannya ini sangat mengerikan layaknya tawanan psikopat yang sedang kabur.</p>

<p>Jnata menipiskan bibir, ini penawaran yang sulit baginya. Di satu sisi, penawaran yang Abi tawarkan bisa sedikit menyelamatkannya dari omelan sang mamah, tapi di satu sisi lainnya ia merasa gengsi dan juga tidak enak hati.</p>

<p>Ingin meminta bantuan pada teman-temannya tetapi ponsel yang ia miliki sudah kehabisan daya beberapa jam lalu sebelum motornya mogok.</p>

<p>Jnata menghela napas sebentar sebelum menjawab dan menatap lurus sang lawan bicara, “Iya, gue mau ikut pulang ke rumah lo.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/mogok</guid>
      <pubDate>Thu, 06 Jan 2022 13:05:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Gudang belakang sekolah</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/gudang-belakang-sekolah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Theo datang sesuai permintaan Jnata kemarin.&#xA;&#xA;Pemuda dengan dasi yang tergulung di sela-sela jari itu tengah berjalan mendekati Jnata yang berada di tengah ruangan.&#xA;&#xA;Jnata terlihat sangat tenang, walaupun jauh di lubuk hatinya ingin sekali menghabisi pemuda di depannya.&#xA;&#xA;Keduanya telah berhadapan, dengan Theo yang bersidekap dan Jnata yang menaruh kedua tangannya di saku celana, pandangan mereka sangat tajam bagai pedang yang siap menghunus lawannya.&#xA;&#xA;Jnata menelisik Theo dari bawah sampai atas yang mana membuat pemuda bersurai hitam itu merasa sedikit tersinggung.&#xA;&#xA;&#34;Ada masalah pribadi apa lo sama gue? Ga mungkin kan cuma gara-gara lgbt kemaren sama masalah tawuran?&#34;&#xA;&#xA;Theo bergumam menjawab pertanyaan tersebut seraya bersiul memutari Jnata, &#34;Ya—Tebakan lo ada benernya Nat.&#34; &#xA;&#xA;Jnata menghentikan pergerakan Theo dengan menarik kerahnya mengunakan kedua tangan agar mendekat, &#34;To the point sebelum gue bener-bener ngehajar lo disini,&#34; Jnata geram? tentu saja ia geram sekali dengan pemuda di hadapannya ini tapi sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang— tidak mau menyerang terlebih dahulu.&#xA;&#xA;&#34;Gue benci sama lo Nat.&#34; Theo berdesis, dengan cepat menendang tubuh Jnata dengan kakinya yang mana membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah.&#xA;&#xA;Jnata berusaha mempertahankan keseimbangannya agar tidak jatuh tersungkur, &#34;Atas dasar apa lo benci sama gue? gue ada salah apa sama lo?&#34; masih bersikap tenang, dengan napasnya yang memburu pertanda ia sedang menahan emosi.&#xA;&#xA;Theo maju beberapa langkah mendekati kembali Jnata, &#34;Lo ga perlu nanya Nat, yang lo perlu ngaca!&#34; sarkasnya, menatap remeh Jnata seolah ia makhluk yang paling menjijikkan.&#xA;&#xA;Jari telunjuknya mengacung ke depan, kemudian mendarat pada dada laki-laki di hadapannya. Obsidiannya nyalang menatap pada sang lawan bicara.&#xA;&#xA;“Lo,” telunjuk kanannya ia ketukkan sekali di titik awal jemarinya berada.&#xA;&#xA;“Ga pantes,” ketukan kedua dengan daya yang lebih kuat terasa, terjadi berurutan dengan untaian kata.&#xA;&#xA;“Di Moran.” Ketukan terakhir bersama dorongan kuat di dada menjadi bukti bahwa kata-kata yang Theo tekankan sedari tadi bukanlah bualan semata. &#xA;&#xA;Theo tarik kembali jari-jemarinya dari dada Jnata. Setelahnya, sebuah seringai menyebalkan tercipta dari bibir tipis lelaki itu. “Loser,” bisiknya kemudian dengan nada yang sengak didengar telinga.&#xA;&#xA;Persetan dengan kata teman, Jnata yang sudah kepalang emosi pun langsung meninju perut Theo beberapa kali yang mana membuat pemuda itu sedikit merunduk.&#xA;&#xA;Saat pukulan Jnata mulai melemah, Theo menggunakan kesempatan ini untuk merogoh saku celananya— mengambil cutter di bagian terdalam, dan langsung membalas tinjuan itu dengan cutter yang selalu ia bawa kemanapun.&#xA;&#xA;&#34;AKHH!&#34;&#xA;&#xA;Jnata menggeram seraya mundur beberapa langkah menatap lengannya yang mengeluarkan darah segar dan terlihat sayatan yang kira-kira panjangnya 5 sentimeter dengan kedalaman 2 milimeter. Sayatan yang diberikan Theo bukan main sakitnya.&#xA;&#xA;Napas keduanya memburu, berlomba-lomba meraup oksigen yang berada di sekitarnya.&#xA;&#xA;Jnata terkekeh sarkas sembari bertepuk tangan seraya melepas kasar dasi yang terasa mencekik, menghiraukan luka sayatannya yang menganga serta mengambil langkah maju kembali mendekat, &#34;Gini cara main lo? Hahaha man, lo ga lebih dari seorang pecundang ya ternyata?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo yang pecundang Jnata,&#34; desisnya.&#xA;&#xA;Entah siapa yang memulai kembali pertarungan ini, yang jelas sudah lebih dari 30 menit mereka saling meninju, menendang, membanting dan sesekali Theo memberikan sayatannya lagi pada tubuh Jnata.&#xA;&#xA;Kini, kondisi Theo semakin mengenaskan dengan baju yang robek di beberapa bagian, darah keluar dari mulut, lebam biru di mana-mana, serta bibirnya yang robek.&#xA;&#xA;Kaki Jnata sedang berada di atas dada Theo—menekannya kuat— yang mana membuat pemuda itu bernapas tersengal-sengal, seraya tangannya mengarahkan cutter yang ia pegang ke arah sang pemilik yang berada di bawahnya.&#xA;&#xA;Jnata tak kalah kacaunya dengan Theo, sayatan di kedua lengan dan leher serta beberapa di wajahnya membuat pemuda kelahiran Pasundan itu terlihat seperti korban siksaan psikopat.&#xA;&#xA;Jnata menyugarkan rambutnya ke belakang, masih dengan posisi semula dengan tambahan daya yang lebih kuat, &#34;So. Theo Adnan, lo masih mau ngelawan gue?&#34;&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Theo datang sesuai permintaan Jnata kemarin.</p>

<p>Pemuda dengan dasi yang tergulung di sela-sela jari itu tengah berjalan mendekati Jnata yang berada di tengah ruangan.</p>

<p>Jnata terlihat sangat tenang, walaupun jauh di lubuk hatinya ingin sekali menghabisi pemuda di depannya.</p>

<p>Keduanya telah berhadapan, dengan Theo yang bersidekap dan Jnata yang menaruh kedua tangannya di saku celana, pandangan mereka sangat tajam bagai pedang yang siap menghunus lawannya.</p>

<p>Jnata menelisik Theo dari bawah sampai atas yang mana membuat pemuda bersurai hitam itu merasa sedikit tersinggung.</p>

<p>“Ada masalah pribadi apa lo sama gue? Ga mungkin kan cuma gara-gara <em>lgbt</em> kemaren sama masalah tawuran?”</p>

<p>Theo bergumam menjawab pertanyaan tersebut seraya bersiul memutari Jnata, “Ya—Tebakan lo ada benernya Nat.”</p>

<p>Jnata menghentikan pergerakan Theo dengan menarik kerahnya mengunakan kedua tangan agar mendekat, “<em>To the point</em> sebelum gue bener-bener ngehajar lo disini,” Jnata geram? tentu saja ia geram sekali dengan pemuda di hadapannya ini tapi sebisa mungkin ia tetap bersikap tenang— tidak mau menyerang terlebih dahulu.</p>

<p>“Gue benci sama lo Nat.” Theo berdesis, dengan cepat menendang tubuh Jnata dengan kakinya yang mana membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah.</p>

<p>Jnata berusaha mempertahankan keseimbangannya agar tidak jatuh tersungkur, “Atas dasar apa lo benci sama gue? gue ada salah apa sama lo?” masih bersikap tenang, dengan napasnya yang memburu pertanda ia sedang menahan emosi.</p>

<p>Theo maju beberapa langkah mendekati kembali Jnata, “Lo ga perlu nanya Nat, yang lo perlu ngaca!” sarkasnya, menatap remeh Jnata seolah ia makhluk yang paling menjijikkan.</p>

<p>Jari telunjuknya mengacung ke depan, kemudian mendarat pada dada laki-laki di hadapannya. Obsidiannya nyalang menatap pada sang lawan bicara.</p>

<p>“Lo,” telunjuk kanannya ia ketukkan sekali di titik awal jemarinya berada.</p>

<p>“Ga pantes,” ketukan kedua dengan daya yang lebih kuat terasa, terjadi berurutan dengan untaian kata.</p>

<p>“Di Moran.” Ketukan terakhir bersama dorongan kuat di dada menjadi bukti bahwa kata-kata yang Theo tekankan sedari tadi bukanlah bualan semata.</p>

<p>Theo tarik kembali jari-jemarinya dari dada Jnata. Setelahnya, sebuah seringai menyebalkan tercipta dari bibir tipis lelaki itu. “<em>Loser,</em>” bisiknya kemudian dengan nada yang sengak didengar telinga.</p>

<p>Persetan dengan kata teman, Jnata yang sudah kepalang emosi pun langsung meninju perut Theo beberapa kali yang mana membuat pemuda itu sedikit merunduk.</p>

<p>Saat pukulan Jnata mulai melemah, Theo menggunakan kesempatan ini untuk merogoh saku celananya— mengambil <em>cutter</em> di bagian terdalam, dan langsung membalas tinjuan itu dengan <em>cutter</em> yang selalu ia bawa kemanapun.</p>

<p>“AKHH!”</p>

<p>Jnata menggeram seraya mundur beberapa langkah menatap lengannya yang mengeluarkan darah segar dan terlihat sayatan yang kira-kira panjangnya 5 sentimeter dengan kedalaman 2 milimeter. Sayatan yang diberikan Theo bukan main sakitnya.</p>

<p>Napas keduanya memburu, berlomba-lomba meraup oksigen yang berada di sekitarnya.</p>

<p>Jnata terkekeh sarkas sembari bertepuk tangan seraya melepas kasar dasi yang terasa mencekik, menghiraukan luka sayatannya yang menganga serta mengambil langkah maju kembali mendekat, “Gini cara main lo? Hahaha <em>man</em>, lo ga lebih dari seorang pecundang ya ternyata?”</p>

<p>“Lo yang pecundang Jnata,” desisnya.</p>

<p>Entah siapa yang memulai kembali pertarungan ini, yang jelas sudah lebih dari 30 menit mereka saling meninju, menendang, membanting dan sesekali Theo memberikan sayatannya lagi pada tubuh Jnata.</p>

<p>Kini, kondisi Theo semakin mengenaskan dengan baju yang robek di beberapa bagian, darah keluar dari mulut, lebam biru di mana-mana, serta bibirnya yang robek.</p>

<p>Kaki Jnata sedang berada di atas dada Theo—menekannya kuat— yang mana membuat pemuda itu bernapas tersengal-sengal, seraya tangannya mengarahkan <em>cutter</em> yang ia pegang ke arah sang pemilik yang berada di bawahnya.</p>

<p>Jnata tak kalah kacaunya dengan Theo, sayatan di kedua lengan dan leher serta beberapa di wajahnya membuat pemuda kelahiran Pasundan itu terlihat seperti korban siksaan psikopat.</p>

<p>Jnata menyugarkan rambutnya ke belakang, masih dengan posisi semula dengan tambahan daya yang lebih kuat, “<em>So</em>. Theo Adnan, lo masih mau ngelawan gue?”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/gudang-belakang-sekolah</guid>
      <pubDate>Thu, 06 Jan 2022 13:00:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Moran—Raksa.</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/moran-raksa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jumat, pukul dua siang sesuai yang di rencanakan Moran dan Raksa, mereka bersama-sama sudah berada di gang Arif—gang besar— tempat perbatasan antara sekolah gang Moran dan juga Raksa.&#xA;&#xA;Jnata maju paling depan berhadapan langsung dengan ketua Raksa sembari mengulurkan tangan kanannya, &#34;Abishaka Fareza TKR 2?&#34; tanya Jnata basa-basi dengan nada angkuh.&#xA;&#xA;Abi memejamkan matanya singkat seraya menghirup udara kasar— menetralisir rasa ingin menghajar langsung pemuda di depannya, &#34;Jnata spy pki janggela? Anak Moran sekarang— kerja sambilan jadi koki ya?&#34; tanyanya jenaka seraya bersedekap menatap remeh Jnata, di iringi gelak tawa anggota Raksa.&#xA;&#xA;Jnata spontan melotot tidak terima kejadian Rabu lalu dan teman-temannya di jadikan bahan gunjingan sang rival.&#xA;&#xA;&#34;Gausah banyak bacot LO—BUGH! tanpa aba-aba Jnata melayangkan teflon yang ia pegang pada kepala Abi yang membuatnya oleng persekian detik.&#xA;&#xA;&#34;ANJING!&#34;&#xA;&#xA;Dan pertarungan sengit pun tak dapat terelakkan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jumat, pukul dua siang sesuai yang di rencanakan Moran dan Raksa, mereka bersama-sama sudah berada di gang Arif—gang besar— tempat perbatasan antara sekolah gang Moran dan juga Raksa.</p>

<p>Jnata maju paling depan berhadapan langsung dengan ketua Raksa sembari mengulurkan tangan kanannya, “Abishaka Fareza TKR 2?” tanya Jnata basa-basi dengan nada angkuh.</p>

<p>Abi memejamkan matanya singkat seraya menghirup udara kasar— menetralisir rasa ingin menghajar langsung pemuda di depannya, “Jnata spy pki janggela? Anak Moran sekarang— kerja sambilan jadi koki ya?” tanyanya jenaka seraya bersedekap menatap remeh Jnata, di iringi gelak tawa anggota Raksa.</p>

<p>Jnata spontan melotot tidak terima kejadian Rabu lalu dan teman-temannya di jadikan bahan gunjingan sang rival.</p>

<p>“Gausah banyak bacot LO—BUGH! tanpa aba-aba Jnata melayangkan teflon yang ia pegang pada kepala Abi yang membuatnya oleng persekian detik.</p>

<p>“ANJING!”</p>

<p>Dan pertarungan sengit pun tak dapat terelakkan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/moran-raksa</guid>
      <pubDate>Tue, 04 Jan 2022 14:03:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>( 2 ) Prepare Moran.</title>
      <link>https://nomincitty.writeas.com/2-prepare-moran?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Tak terasa jam telah menunjukkan pukul setengah lima sore, kini seluruh anggota Moran sedang duduk bersama di halaman depan mokas. Terkecuali Jnata seorang diri yang berdiri tengah mengatur strategi.&#xA;&#xA;&#34;Reksa, Theo, Erik, lo bertiga urus bagian belakang jangan sampe ada yang luka parah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yanuar di barisan tengah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue sama leo paling depan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Barisan depan sama tengah gue saranin pake panci di kepala, kalau bisa sekalian spatula buat nangkis lawan.&#34;&#xA;&#xA;Arahan terakhir dari Jnata sontak membuat sebagian anggota terkekeh geli membayangkan tawuran yang biasanya sangar berubah menjadi master chef.&#xA;&#xA;Theo mengangkat tangan, &#34;Lo pikir kita mau mau main masak-masakan apa gimana, Nat?&#34; kekehan sarkas keluar dari bibir pemuda itu.&#xA;&#xA;Jnata balas menatap tajam Theo, &#34;Gue serius! Seenggaknya, kejadian empat bulan lalu si Ibnu yang kepalanya bocor ga bakalan keulang lagi Yo.&#34;&#xA;&#xA;Theo menaikan satu alisnya seraya kepala sedikit di miring kan, &#34;Ya ga pake panci juga Jnata! Kita bisa bawa yang lebih dari itu,&#34; Theo menjeda dengan bangun dari duduknya.&#xA;&#xA;&#34;Bawa tongkat baseball atau gear motor? Anak Raksa kebanyakan pada bawa tongkat sama besi lho Nat? Lo yakin kita bisa bertahan cuma pake itu? Saran gue harus lo pertimbangin lagi.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Tak terasa jam telah menunjukkan pukul setengah lima sore, kini seluruh anggota Moran sedang duduk bersama di halaman depan mokas. Terkecuali Jnata seorang diri yang berdiri tengah mengatur strategi.</p>

<p>“Reksa, Theo, Erik, lo bertiga urus bagian belakang jangan sampe ada yang luka parah.”</p>

<p>“Yanuar di barisan tengah.”</p>

<p>“Gue sama leo paling depan.”</p>

<p>“Barisan depan sama tengah gue saranin pake panci di kepala, kalau bisa sekalian spatula buat nangkis lawan.”</p>

<p>Arahan terakhir dari Jnata sontak membuat sebagian anggota terkekeh geli membayangkan tawuran yang biasanya sangar berubah menjadi <em>master chef</em>.</p>

<p>Theo mengangkat tangan, “Lo pikir kita mau mau main masak-masakan apa gimana, Nat?” kekehan sarkas keluar dari bibir pemuda itu.</p>

<p>Jnata balas menatap tajam Theo, “Gue serius! Seenggaknya, kejadian empat bulan lalu si Ibnu yang kepalanya bocor ga bakalan keulang lagi Yo.”</p>

<p>Theo menaikan satu alisnya seraya kepala sedikit di miring kan, “Ya ga pake panci juga Jnata! Kita bisa bawa yang lebih dari itu,” Theo menjeda dengan bangun dari duduknya.</p>

<p>“Bawa tongkat <em>baseball</em> atau gear motor? Anak Raksa kebanyakan pada bawa tongkat sama besi <em>lho</em> Nat? Lo yakin kita bisa bertahan cuma pake itu? Saran gue harus lo pertimbangin lagi.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://nomincitty.writeas.com/2-prepare-moran</guid>
      <pubDate>Tue, 04 Jan 2022 13:29:42 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>